Pemikiran Pembaharuan Pendidikan

Halaman

DINAMIKA DAN PROBLEMATIKA PONDOK PESANTREN  (ANALISIS KRITIS TERHADAP PERSPEKTIF PEMIKIRAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN K.H. IMAM ZARKASYI GONTOR)  

 Oleh : Win Ushuluddin Bernadien*

Abstract : From the early until recent developement, pesantren is defined as an education institution which has at least three elements: (1) kiayi as spiritual leader who owns pesantren, teaches and educates santris within pesantren; (2) santris, who have consciousness to be pious people, and therefore, have willingness to study; (3) mosques, within which they hold learning processes. Almost all pesantrens in Indonesia have these three elements. Social reality shows that, in general, pesantrens have influenced the life of wider communities, despite the fact that pesantrens themselves does not considerably change, as if they are not touched by the dynamic of the development of societal life. K.H. Imam Zarkasyi ia one of the central figures whose role is to determine the development of the learning processes in Modern Pesantren of Darussalam, Gontor since 1926. This paper critically deals with his thought, which has been a mainstream so far for the development of this pesantren.

 

Keywords: pesantren, dinamika dan problematika.

PENDAHULUAN

Pesantren, secara sederhana mulanya dimengerti sebagai tempat mangkalnya sekelompok orang saleh yang ingin mendalami agama Islam, dengan seorang kiai tertentu sebagai tokoh spiritual mereka. Kata “santri” sendiri sebenarnya punya dua pengertian. Pertama, bisa berarti orang mendalami agama Islam. Kedua, bisa berarti juga orang saleh yang beribadat dengan sungguh-sungguh. Pada perkembangan selanjutnya, setiap orang yang bermukim di pesantren, entah karena dipaksa oleh orang tua lantaran biaya pendidikan yang mahal, atau karena frustasi dan karenanya ia tetap bandel di pesantren tanpa menunjukkan sedikitpun tanda-tanda orang saleh,  tetap disebut santri, itu soal lain.

Di Indonesia, pesantren dikenal sebagai tradisi belajar dan mengajar yang intensif, yang paling sesuai dengan kultur masyarakat Islam negeri ini. Karena Islam di Nusantara, dari sumber penyebaran pertamanya di Aceh, menjalar secara terorganisasi dan terencana pertama kali justru dari tradisi pesantren ini. Syaikh Maulana Malik Ibrahim, wali pertama dari wali songo yang berjasa menyiarkan agama Islam pertama kali di jazirah Nusantara, adalah pendiri pertama pesantren di Indonesia. Dari pesantrennya inilah kemudian menyebar ribuan muballigh ke seluruh Tanah Jawa dan daerah-daerah sekitarnya.

Pendidikan dan pengajaran di pesantren berurat akar ke bawah, mendapat dukungan dari masyarakat dan hidup di tengah masyarakat serta mengabdi pada kepentingan rakyat. Pesantren memiliki jiwa gotong royong atau kekeluargaan, oleh karenanya lembaga ini tidak mengenal hubungan kepegawaian, buruh majikan, dengan sendirinya seluruh karyawan pendidikannya tidak mengenal istilah gaji. Sesuai dengan kenyataan tersebut dan karena itu sistim ujian, ijazah yang mengarah kepada sifat intelektualisme dan verbalisme dalam pendidikan dan pengajarannya sehingga pendidikan intelek mengalahkan pendidikan kepribadian yang integral dari manusia juga tak dikenal, dan diganti dengan in service teacher role yang terkenal dengan istilah sistem lurah pondok.

Secara natural  tidak ada gejala sosial di dunia ini yang selalu tetap dan tidak berubah. Begitu pula halnya dengan dunia pesantren, meskipun dalam gambaran masyarakat umum pesantren merupakan “pribadi” yang sukar diajak berbicara mengenai perubahan, sulit dipahami pandangan dunianya dan karena itu pula orang enggan membicarakannya. Sementara itu sebagian orang merasa punya kuasa atau mempunyai pengaruh lalu berusaha untuk menggalakkan perhatian umum mengenai lembaga yang didiamkan dalam “cagar masyarakat” itu. Walhasil, masyarakat umum memandang dunia pesantren hampir-hampir sebagai lambang keterbelakangan dan ketertutupan[1]. Karena itulah, ketika kebetulan pemerintah – dalam hal ini Departemen Agama atau Menteri Agama – membicarakan, bahkan menjadikan pesantren sebagai “sasaran pembangunan”, maka dunia pesantrenpun menerimanya dengan terkejut dan kemudian “curiga”.

UPAYA SEKULERISASI PESANTREN

Suatu malam, ketika penulis mengadakan “dialog” dengan putra kesepuluh Kiai Zarkasyi, Nasrullah Zainul Muttaqin, dan sebelumnya, pada kesempatan yang berlainan, penulis juga mengadakan dialog serupa dengan putra ke sembilan, Hamid Fahmy, mereka mengatakan bahwa pada dekade awal tahun 70-an almarhum Pak Zar pernah mengusir seorang peneliti dari “pusat” yang hendak mengadakan penelitian seputar Gontor. Alasannya sungguh ironis. Karena sang peneliti adalah seorang yang telah mengenyam pendidikan Barat, sedangkan Barat itu adalah identik dengan kafir. Orang kafir haram berada di  Gontor. Meski dengan alasan yang berlainan, rupanya kondisi ini “masih bertahan” hingga saat penelitian ini dilakukan, terutama para “sesepuh” Pondok Modern Gontor, masih “mengharamkan” seseorang mengadakan penelitian di sana. Mereka baru mengizinkan jika seseorang itu dapat mengajukan alasan yang kuat dan tentunya dibenarkan pula oleh para “sesepuh” itu. Namun demikian dua “tokoh muda” yang penulis sebutkan di atas telah memiliki pandangan yang lebih maju yang tak lagi memandang “haram” melakukan penelitian di sana.

Sejalan dengan itu, di Gontor, dan entah dimana lagi, terbetik suara lirih pertanyaan besar : “mengapa tiba-tiba orang memperhatikan, membicarakan, menulis, melakukan penelitian dan wawancara mengenai pesantren? Adakah udang di balik batu?” Perhatian pemerintah terhadap pesantren kemudian dihubung-hubungkan dengan “issue politik” mengenai modernisasi atau pembaharuan yang pada tahun 1970 didengungkan oleh sekelompok pemuda dan mahasiswa Islam. Kalangan muda Islam sebenarnya sekedar mencetuskan gagasan perlunya “pembaharuan” dalam masyarakat Islam dan bukan pada ajaran Islam itu sendiri. 

Dalam sebuah dokumentasi tanpa tahun berisi “Kumpulan Pendapat Tentang Pondok Pesantren Santri dan Kiai” yang dikeluarkan oleh Institut Pendidikan Darussalam, Pondok Modern Gontor Ponorogo Pondok berjudul, Pesantren Kiai dan Ulama Dengan Sejarah Jasa dan Fungsinya Dalam Pembangunan, Sebuah Antologi, diketahui bahwa kebetulan gagasan-gagasan yang sampai ke dunia pesantren adalah menyangkut masalah “perubahan kurikulum”, “pendidikan ketrampilan”, “program Keluarga Berencana”, “proyek ayam” dan sebagainya. Tentu saja hal itu akan mudah mengingatkan dunia pesantren pada apa yang mereka dengar mengenai “sekularisasi”, sesuai yang mereka pahami sebagai suatu proses penduniawian segala nilai, suatu paham yang berusaha memisahkan agama dengan ilmu dan kehidupan dunia. Jika dilaksanakan, gagasan itu barangkali memang akan menimbulkan akibat proses penduniawian dari berbagai aspek kehidupan pesantren, namun hal ini nampaknya tidak tepat jika dihubungkan secara langsung dengan paham sekularisme, sebab timbul dan berkembangnya paham ini mempunyai kontek historis dan lingkungan sosial tersendiri, yaitu lingkungan zaman Eropa abad Pertengahan di mana alam fikiran masyarakat ketika itu dikuasai oleh keyakinan-keyakinan, khutbah-khutbah dan naskah-naskah yang bertemakan De Comptu Mundi (sikap terhadap sejarah manusia yang dilihat dari pandangan yang meremehkan dunia) dan Momento Mori (ingatan pada ajal), dimana pula sikap politik masyarakat berada pada kerangka yang mempertahankan antara apa yang disebut Civitas Mundi (kerajaan duniawi) dan Civitas Dei (kerajaan Tuhan atau kerajaan Cinta Seribu Tuhan yang suci).[2] Pada akhirnya ketika sosiologi berkembang, maka sekulerisme, sebagai suatu istilah, menjadi sesuatu yang mericuhkan dan mengaburkan makna serta pengertian, sebab paham yang dimengerti oleh masyarakat sebagai bermaksud untuk memisahkan masalah-masalah “dunia” dengan masalah-masalah “agama” ini, menjumpai kenyataan bahwa kedua hal itu memang tidak bisa dipisah-pisahkan, walaupun dalam banyak segi dapat dibedakan. Sejalan dengan itu, pada tanggal 21 Oktober 1992 yang lalu di Taman Ismail Marjuki (TIM) Jakarta, diselenggarakan suatu ceramah memperingati 20 tahun pembaharuan Islam. Dalam kesempatan tersebut Nurcholis Madjid memberikan uraian berjudul: “Beberapa Renungan tentang Kehidupan untuk Generasi Mendatang” berisikan refleksinya atas corak Islam yang dituntut oleh perkembangan zaman di masa mendatang. Ia memaparkan tentang “bahaya” corak keberagaman yang bersifat fundamentalis dan kultus, dan ia menawarkan alternatif Islam yang bersifat spiritual. Nurcholis Madjid ketika muda dikenal sebagai “Natsir Muda” karena banyak hal yang diharapkan darinya untuk pemikiran dan perkembangan Islam di Indonesia masa depan. Tetapi kemudian ia menjadi kontroversial, ketika tahun 1970-an menggagas pembaruan Islam yang menekankan kebebasan berfikir, sekularisasi, liberalisasi dan sikap terbuka terhadap gagasan-gagasan kemajuan. Ceramah di TIM itu telah banyak mengundang polemik, baik ketidaksetujuan maupun dukungan.[3] 

PESANTREN SEBAGAI MAINSTREAM SOCIAL LIFE MASYARAKAT PEDESAAN

Lepas dari paham sekulerisme dengan konteksnya yang tersendiri itu, marilah kita lihat apa yang sebenarnya berlangsung di dunia pesantren. Pada tingkat pertama dapat dikatakan secara pasti bahwa pesantren tak lain adalah suatu lembaga keagamaan yang mengajarkan, mengembangkan, dan menyebarkan ilmu agama Islam, atau dengan kata lain, pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan dan penyiaran agama Islam. Setelah terjadi banyak perubahan dalam masyarakat, sebagai akibat dari pengaruhnya, definisi di atas tidak lagi memadai, walaupun pada intinya pesantren tetap berada pada fungsinya yang asli, yang selalu dipelihara di tengah-tengah arus perubahan yang deras, bahkan karena menyadari arus perubahan yang kerap kali tak terkendali itulah pihak luar justru melihat keunikannya sebagai wilayah sosial yang mengandung kekuatan resistensi terhadap dampak modernisasi, sebagaimana dahulu, lembaga ini sudah berperan dalam menentang kolonialisme, walaupun dengan cara uzlah (menghindar dan menutup diri).[4] Dari sekian banyak pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, terutama di Jawa Timur dan Madura – di Minangkabau disebut surau, di Aceh rangkang meunasah dan di Pasundan disebut pondok - sebagian besar memang melulu mengajarkan agama. Jika langgar dan masjid merupakan tempat anak-anak muda belajar rukun iman dan rukun Islam, maka pesantren adalah tempat belajar secara lebih mendalam dan lebih lanjut ilmu agama Islam yang diajarkan secara sistematis, langsung dari dalam bahasa Arab serta berdasarkan pembacaan kitab-kitab klasik karangan ulama-ulama besar. Mereka yang berhasil dalam belajarnya, memang kemudian diharapkan menjadi kiai, ulama, muballigh atau setidak-tidaknya sebagai guru agama. Deskripsi ini mempertegas bahwa pesantren mempunyai fungsi tertentu dalam proses perkembangan masyarakat, setidak-tidaknya dalam proses sosialisasi anggota-anggota masyarakat Indonesia “zaman dulu” atau masyarakat pedesaan yang terbelakang, terpencil atau masyarakat di sekeliling pesantren dimana lembaga itu berada serta lingkungan masyarakat yang jauh dari lokasi pesantren tetapi mempunyai komunitas dan berada di bawah pengaruh pesantren besar. Dengan kata lain, apa yang diajarkan di pesantren walaupun belum berkembang menjadi ilmu yang lebih mapan, namun mampu memberikan dasar pada hidup berkebudayaan serta peradaban. Mereka yang berada di lingkungan pesantren memang mempelajari agama, namun dalam paham keagamaan itu mereka secara sadar mengetahui adanya pengertian “ilmu”, sesuatu yang merupakan pangkal tolak dari penguasaan manusia pada alam fisik dan lingkungan sosialnya.

Masyarakat Indonesia yang pada umumnya beragama Islam, lebih-lebih di daerah pedesaan jelas membutuhkan kepemimpinan rohaniah. Pesantren sebagai pusat kegiatan spirituil, mampu memenuhi kebutuhan ini. Kepemimpinan rohaniah dibutuhkan dalam masyarakat untuk menjaga keharmonisan yang selalu didambakan di lingkungan itu. Kegiatan-kegiatan keagamaan seperti shalat berjamaah di masjid, slametan atau syukuran, melakukan upacara doa, sesorah atau kuliyah agama yang berisikan nasehat-nasehat, berpuasa dan tarawih beramai-ramai pada bulan Ramadhan dan kemudian berpesta Hari Raya Idul Fitri, menabuh bedug atau kenthongan di masjid, upacara perkawinan dan seterusnya, adalah hal-hal yang mengisi dan memberi makna hidup dalam masyarakat desa yang sering kali masih amat pastoral. Mereka membutuhkan kepemimpinan yang dapat dipatuhi, tempat meminta nasehat dan pertimbangan, meminta keputusan mengenai masalah yang mereka perselisihkan dan wahana melempar tanya serta melimpahkan hormat. Pesantren yang merupakan pusat pendidikan, sumber kepemimpinan informal dan juga ruang bagi kegiatan masyarakatnya, sudah pasti mengandung berbagai kemungkinan untuk menjalankan peranannya yang lebih luas. Gambaran tentang kiai memang seringkali diasosiasikan sebagai tokoh yang kolot, fanatik, sulit diajak berdialog dan juga mungkin puritan, suatu gambaran yang sebenarnya bersifat a-priori, dan prasangka. Candraan seperti itu sebenarnya mengandung aspek pribadi dan bukan aspek kelompok sosial, karena setiap kiai memiliki sikap dan kepribadian yang tak sama.

Tuntutan abad pengetahuan dan teknologi modern dewasa ini adalah lahirnya ulama intelek yang tidak hanya pandai dan paham tentang ilmu agama, melainkan pandai pula dalam bidang ilmu pengetahuan umum lainnya, sehingga ke-ulama-annya berimbang. Tidak hanya pandai mengaji dan berdakwah melainkan mampu diajak diskusi di forum ilmiah di tengah-tengah para ilmuwan maupun cerdik pandai lainnya sehingga predikat ke-ulama-annya mampu memberikan sumbangan pemikiran dalam problem solving masalah masalah sosial yang timbul dalam masyarakat modern sekarang ini. Dengan demikian dimanapun ia tampil dan tegak tidak merasa canggung. Kelahiran semacam ini telah dirintis oleh K.H. Imam Zarkasyi beberapa puluh tahun yang lalu dengan mendirikan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo.

IMAM ZARKASYI DARI DARUSSALAM GONTOR

Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan oleh Trimurti; (tiga bersaudara pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, mereka adalah: 1.) K.H. Raden Ahmad Sahal putera Kiai Raden Santoso Anom Besari, lahir di Gontor 2 Mei 1901, meninggal pada tanggal 9 April 1977, 2.) K.H. Raden Zainuddin Fannani, putera keenam Kiai Raden Santoso Anom Besari Lahir, di Gontor 22 Desember 1908, meninggal 21 Juli 1967 di Jakarta, dan 3.) K.H. Raden Imam Zarkasyi putra bungsu Kiai Raden Santoso Anom Besari, lahir tanggal 21 Maret 1910, meninggal pada tanggal 30 April 1985 di Gontor) mereka adalah orang-orang yang dibesarkan oleh masyarakat setempat.  Pondok Modern Darussalam Gontor yang telah berhasil diakui sebagai salah satu milik nasional bahkan kebanggaan umat Islam internasional merupakan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah tradisi bangsa Indonesia, hingga kini masih terus dipertahankan eksistensinya sebagai pondok pesantren bahkan dikembangkan peranannya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari tahun ke tahun Pondok Modern Darussalam Gontor mampu menunjukkan produknya, para alumninya banyak tersebar di berbagai sektor kehidupan melibatkan diri dalam pembangunan dan pengembangan masya rakat. Dari  “Dokumentasi Peringatan Delapan Windu Pondok Modern” Panitia Peringatan Delapan Windu Pondok Modern Gontor Indonesia, 1991, halaman 96 disebutkan bahwa berbekal mental mandiri, para alumni banyak yang berniat untuk ber-tafaqquh fi al-di>n mendirikan pesantren-pesantren di daerah asal, atau berwiraswasta yang berhasil menjadi pengusaha, dan ini merupakan ciri khas produk Pondok Modern Darussalam Gontor. Di bawah kepemimpinan K.H. Imam Zarkasyi, Pondok Modern Gontor adalah sebuah pondok yang prinsipil menjauhi aliran politik, tak mau disebut NU, Muhammadiyah atau apa saja, sehingga santri-santrinya pun berasal kalangan keluarga “pinggiran” dan “abangan” serta keluarga Muhammadiyah bahkan sebagian besar dari keluarga NU, khususnya dari lapisan yang boleh dikata “lebih modern”.[5]

Betapapun banyak kritik yang dapat dialamatkan ke Pondok Gontor[6], akan tetapi Gontor, sejak kepemimpinan Kiai Zarkasyi ini, telah dapat dimasukkan sebagai salah satu pondok besar yang dapat memberikan inspirasi dan harapan bagi kaum pembaharu. Kehidupan santri di Pondok  Gontor memiliki dinamika yang tersendiri akibat kontaknya yang terus menerus dengan persoalan-persoalan mutakhir melalui media komunikasi yang memang disediakan oleh pengasuh Pondok Modern ini.

Perkembangan pondok pesantren selalu mengalami pasang surut. Para pewaris pondok memang berusaha menemukan penyebab kemunduran dan keruntuhannya. Pondok-pondok besar yang ada sekarang ini, sebenarnya merupakan kelanjutan dari pondok-pondok pesantren yang dibangun pada Abad XIX dan kemudian dibangun kembali oleh keturunannya. Demikian juga Pondok Modern Darussalam Gontor yang didirikan pada tahun 1926, pada hakikatnya adalah usaha menghidupkan kembali (revival) pondok sebelumnya yang dianggap tidak lagi mampu bertahan dengan watak dan tuntutan jaman. Trimurti telah membangun kembali pondok pesantren di Gontor dengan me ngambil pengalaman dan pelajaran pondok sebelumnya[7], dengan cara menarik pelajaran (baca: sintesa) dari berbagai perguruan atau universitas terkenal di Asia dan Afrika (Al Azhar, Syanggit, Shantiniketan, dan Alighart). Kiai Zarkasyi, nampaknya bukan sosok oportunis atas mainstrem sesaat tetapi berangkat dari sebuah dasar kuat yang tumbuh dari ide orisinil yang dihayati dan diyakini, bukan sekedar echo dari keadaan masyarakat pada suatu masa. Dia telah memiliki cita-cita tertentu yang kelak diperjuangkan dengan setia karenanya jauh-jauh hari telah menyusun master plan untuk pondoknya. Di Pondok Modern Darussalam Gontor  ini program pendidikan dan pengajaran merupakan program pertama dari “Panca Jangka”nya, yaitu: bidang garap yang dikerjakan berdasarkan prioritas dalam kurun waktu tertentu dan atau kondisi tertentu sesuai kepentingan, yang meliputi: 1. Pendidikan dan pengajaran, 2. Pergedungan dan peralatan (sarana dan prasarana, pen), 3. Sumber pembiayaan, 4. Kader, dan 5. Kesejahteraan keluarga. Pondok Modern Gontorlah yang agaknya “memiliki” pola fikir yang lebih fungsional di samping sikap religius. Meskipun demikian nampaknya kiai tetap waspada dan tak terperosok ke dalam bahaya operasionalisme.

MEMASUKI GERBANG DARUSSALAM GONTOR

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo didirikan oleh Tiga bersaudara ‘Trimurti’ pada tanggal 12 Rabiul Awwal 1346 H. bertepatan dengan 9 Oktober 1926 M. Pesantren ini sesungguhnya merupakan usaha untuk membangkitkan kembali (revival) pondok pesantren yang telah ada sebelumnya, yaitu Pondok Tegalsari, yang dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi tuntutan zamannya. Hal ini dapat dimengerti karena ‘Tegalsari’ itu sesungguhnya sudah mengalami sebuah kondisi yang oleh Hegel disebut sebagai ‘discards them from history’, sejak tahun 1800-an disaat Ronggowarsito harus hengkang dari Tegalsari, karena dianggap telah mbalelo dari mainstream Tegalsari oleh Kiai Ageng Mohammad Besyari Tegalsari. Trimurti Pondok Modern Gontor memang secara kinship adalah keturunan para leluhur Tegalsari itu.

Ada satu hal yang patut untuk diakui bahwa Pondok Modern Darussalam Gontor merupakan balai pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah usahanya untuk eksis dan diakui sebagai anak zaman. Bahkan, Pondok Modern Darussalam Gontor dapat dicatat sebagai pioner bagi pembaharu pendidikan pesantren di Indonesia. Menariknya adalah usaha itu dilakukan dengan cara sintesa dari berbagai perguruan tinggi kenamaan di Asia dan Afrika. Tak kurang Universitas Al Azhar (Mesir) yang tampil sebagai kubu pertahanan Islam, wakaf dan usaha pertanian yang luas dan abadi, Universitas Syanggit (Afrika Utara) dengan sistem beasiswanya, Universitas Aligargh (India) yang berusaha tak kenal lelah dengan modernisasinya, dan Shantini Ketan (Tagore, India) dengan kebersahajaan atau kesederhanaannya, kekeluargaan, dan kedamaiannya, telah membangkitkan Trimurti untuk ‘membentuk’ masa depan anak-anak bangsanya melalui pendidikan. Jika memang demikian, maka betapa sesungguhnya kompleks dan berat peranan yang harus mereka mainkan, sebagai konskuensi logis dari perannya sebagai informal leader di tengah-tengah masyarakatnya. Tentang peran ini, memang sulit untuk menjelaskannya. Hal ini karena dalam beberapa kondisi ‘Gontor’ adalah dunia asing bagi masyarakatnya sehingga seolah-olah ‘Gontor’ adalah desa di dalam desa. Tetapi pada situasi yang lain ‘Gontor’ merupakan ‘benteng’ pertahanan terdepan yang tak tergoyahkan bagi ‘usaha-usaha’ penggerogotan moral ‘anak-anaknya’ yang seolah tak terkendalikan deteriorasi dan degradasinya.

Membahas Pondok Modern Darussalam Gontor akan lebih mudah dipahami manakala kita menggunakan pendekatan diakoronis, sehingga akan diperoleh gambaran yang jelas mengapa pesantren ini disebut Pondok Modern. Modern, bisa berarti renaissance, aufklärung atau enlightenment.  Modern bisa pula berarti keterbukaan, perbedaan pendapat, demokrasi dan sebagainya. Dalam konteks Pondok Modern Gontor, modern berarti ‘melampui’ keadaan pesantren dan segala penggambarannya tentang dunia pendidikan ‘Islam’ tersebut pada zamannya. Para pendiri balai pendidikan ini jelas mencita-cita kan sebuah modernisasi pemikiran dan masyarakat Islam.  Pondok Modern Gontor dinyatakan berdirinya pada saat bangsa Indonesia masih berada dalam cengkeraman penjajahan Belanda, dimana pendidikan untuk rakyat sangat tidak memadai bagi penciptaan kualitas manusia yang memiliki harkat dan martabat serta berkebudayaan dan berperadaban. Karena itu ‘kehadiran kembali’ pondok Gontor merupakan pencerahan bagi umat, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Tak ada gading yang tak retak. Demikian pula dengan Pondok Modern Gontor. Namun demikian Pondok Modern Gontor -jika dilihat secara diakronis- jelas merupakan sebuah balai pendidikan besar yang telah banyak memberikan harapan pencerahan bagi kaum pembaharu. Bahkan pada tataran realitas empiris yang dapat disaksikan sekarang, para santri Pondok Modern Gontor jelas mempunyai sebentuk dinamika yang khas akibat konsekuensi logis dari interaksi sekaligus interrelasi dengan pelbagai permasalahan mutakhir melalui media massa dan komunikasi yang memang disediakan oleh para pimpinan dan pengasuhnya untuk mereka. Pondok Modern Gontor merupakan sebentuk harapan bagi pembaharuan pendidikan yang merdeka dan mengedepan. Sekali lagi, pondok ini disebut modern karena memang tampil tidak sama dengan pondok-pondok tradisional (salafiyah) di Jawa pada umumnya, baik sistem pendidikan dan pengajarannya maupun pola sikap dan pola pikir keagamaanya, meskipun sesungguhnya ‘Gontor’ tidak bisa menang galkan kesan ‘ortodoks’ sebagaimana trademark pesantren lain pada umumnya, yang tetap ‘bernaung’ di bawah panji-panji pengakuan sebagai golongan ahlus sunnah wal jama’ah.

Dalam perjalanan sejarahnya, Pondok Modern Gontor dengan segala ‘kebesarannya’ tidak dapat dilepaskan begitu saja dari seorang tokoh yang berwawasan progressive, prospektif, dan futuristik, tokoh yang tidak saja mampu mensikapi gaung yang sedang bergema di zamannya, tetapi juga mampu melihat secara transparan apa yang bakal terjadi pada ‘anak-anaknya’ di masa-masa mendatang. Dialah Raden Kiai Haji Imam Zarkasyi (juga dua saudaranya yang lain, Trimurti), yang menyadari betapa perkembangan zaman yang nyaris tak terkendali, cenderung selalu zig-zag berubah-ubah dan selalu cenderung menuju ke arah ‘kemajuan’. Agaknya, dia telah mampu mewarnai pesantrennya dengan corak tersendiri bahkan merupakan langkah maju yang belum pernah dilakukan oleh tokoh pesantren sebelumnya.   Berada di bawah kepemimpinannya, Pondok Modern Gontor telah ‘memiliki’ pola pikir yang fungsional di samping sikap religius, dan selalu waspada untuk tidak terjerembab ke labirin operasional yang membahayakan. Kiai Zarkasyi menolak tambahan pelajaran lebih praktis, karena dia beranggapan di dalam masyarakat Indonesia belum terjadi differensiasi sosial yang cukup  bagi berbagai macam bidang pertukangan (ketrampilan). Baginya, jika seseorang memiliki pendidikan ‘agama’ yang baik dan mempunyai dasar pendidikan ‘umum’ yang memadai tentu akan mendapatkan jalan kehidupannya, dan suatu keahlian khusus akan dapat dipelajari dalam praktek. Agaknya Pondok Gontor ingin menciptakan ulama, bukan melahirkan ‘pedagang muslim’ atau ‘petani muslim’ meskipun dalam perkembangan terkini, di Gontor jelas ‘diajarkan’ praktek perdagangan maupun pertanian atau sektor perekonomian lainnya, yang justru pada gilirannya ‘Gontor’ telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perekonomian, termasuk transportasi, masyarakat sekitarnya bahkan pada tataran tertentu ‘Gontor’ dapat berperan sebagai vehicle bagi pembangunan dan pembaharuan desanya. Panca Jangka Pondok, jelas merupakan cerminan bahwa ‘Gontor’ merupakan balai pendidikan yang ‘mampu’ memadukan antara teori dan pratek, salah satu ciri bentuk cita-cita masyarakat modern.

Memang harus diakui bahwa telah banyak pembaharuan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang lain dengan pesantren atau lembaga pendidikannya masing-masing, sejak akhir Abad XIX. Dorongan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia muncul karena cukup banyak tokoh dan organisasi Islam yang tidak puas dengan metode tradisional dalam mengkaji al Qur’an dan studi agama yang ada saat itu, sehingga awal Abad XX dijadikan pendorong bagi usaha-usaha perbaikan, baik dari segi isi maupun metodenya  Harus diakui pula bahwa setiap usaha pembaharuan akan selalu saja memunculkan kontoversi, setiap pencarian alternatif selalu saja mengundang reaksi. Tetapi Pondok Modern Gontor jelas dibangun di atas landasan kesadaran yang tinggi akan rasa cinta kepada agama, bangsa, dan negara, kesadaran dan rasa tanggung jawab akan syiar agama Islam, kesadaran akan munculnya generasi yang berkwalitas tinggi dan juga kesadaran akan perlunya hadir figur pemimpin yang bersih, cakap, jujur dan penuh dedikasi kepada umatnya.

Dalam hal pendidikan dan pengajaran Pondok Modern Gontor memiliki corak khusus yang merupakan modifikasi dari madrasi dan pesantren atau lebih jelasnya sistem pengajaran madrasah dengan sistem pendidikan pondok pesantren. Di ‘Gontor’ telah lama ditinggalkan sistem weton dan sorogan untuk digantikan dengan sistem klasikal yang berjenjang.  Balai Pendidikan Pondok Modern ini didirikan dengan pola boarding school dan day-school system -yang memang telah dicita-citakan sejak awal berdirinya, suatu bentuk sistem yang banyak dijumpai di Eropa yang dalam kesehariannya menerapkan penggunaan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa ‘resmi’nya serta open management dalam pengelolaanya. 

PENUTUP

Main idea yang dapat digaris bawahi dari pembahasan Pondok Gontor adalah bahwa balai pendidikan Islam ini merupakan sebuah lembaga pendidikan yang muncul sebagai output dari sebuah proses ‘percobaan’ pembaharuan di bidang pendidikan dan pembaharuan kemasyarakatan, khususnya pesantren. Dengan demikian, sebenarnya terlalu tergesa-gesa untuk menunjukan hasil yang telah dicapai oleh proses eksperimentasi tersebut. Namun demikian, para tokoh sentral Pondok Modern Darussalam Gontor, jelas telah memperhitungkan berbagai cara untuk menetralisir pergolakan yang mungkin bakal terjadi, sebagaimana yang tertuang dalam tujuan, azas pendidikan dan pengajaran, serta ide-ide sintesa yang mengilhaminya untuk mendirikan Balai Pendidikan Pondok Modern ini. Agaknya, pola pikir yang progresif, prospektif, futuristik, disertai kapabilitas perencanaan pendidikan yang matang mendahului masyarakat dan zamanya, menghindari interest group, adalah tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Akhirul kalam, pendidikan secara ideal memang harus disadari sebagai usaha untuk membantu ‘menciptakan’ manusia yang dewasa dan matang yang pada saatnya nanti dengan sadar dan merdeka mau dan mampu berdedikasi kepada masyarakatnya. Ini bukan berarti dalam pendidikan, anak didik ditempa untuk menjadi ‘alat yang berguna’ bagi masyarakat. Adalah salah jika pendidikan hanya mementingkan kepentingan masyarakat semata-mata. Pendidikan secara ideal merupakan alat bantu yang membantu manusia ‘muda’ agar berkemampuan untuk mengolah seluruh kemampuannya sehingga bisa mencapai tingkat kematangan pribadi serta menemukan jati dirinya yaitu sebagai insan kamil. Di tengah-tengah percaturan dan pergumulan pencarian identitas pendidikan nasional, jika pendidikan dipahami sebagai segala upaya masyarakat untuk meneruskan dan menyediakan pengetahuan dan ketrampilan, sikap dan pola tingkah laku demi kelangsungan ataupun perubahan masyarakat dengan menawarkan kesempatan yang sebaik-baiknya kepada semua orang demi perkembangan manusia seutuhnya yang demokratis dan mandiri, Balai Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor, dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, barangkali memungkinkan untuk dapat diharapkan menjadi salah satu model alternatif pendidikan masa depan. Tantangan demi tantangan nampaknya akan selalu datang silih berganti dan bahkan mungkin akan semakin komplek. Penggarapan yang satu tidak bisa dilepaskan begitu saja dari penanggulangan yang lain. Tentu ini sebenarnya perlu dipersoalkan selama pembinanya sendiri berdiri dari sisi pandang kemasyarakatan di mana terjadi kehidupan yang cepat berubah dan semakin maju semakin modern.

Ada satu hal yang perlu dicamkan dalam setiap sanubari adalah kenyataan bahwa tantangan itu telah diperhitungkan kemungkinan cara menetralisir, seperti yang telah dituangkan dalam tujuan, azas pendidikan dan pengajaran serta ide-ide sintesa yang mengilhami didirikannya Balai Pendidikan Pondok Modern ini. Dari sisi ini jelas diperlukan pola pikir yang prospektif dan progresif disertai kemampuan mengadakan perencanaan pendidikan yang matang dan dalam banyak hal mendahului masyarakat dan jamannya. Kenyataan ini memberikan rangsangan tidak saja kepada pendiri pesantren ini, tetapi terutama justru seharusnya kepada generasi penerus dan pembinanya dengan kesadaran interestgroup yang berkepentingan dalam kelangsungan perkembang an Pondok Modern Darussalam Gontor.

Penulis berharap kepada Trimurti generasi sekarang, juga kepada pemerintah, agar tetap menyatukan gerak dan langkah untuk berbuat lebih mengarah pada tercapainya pengembangan serta pembangunan pondok modern, serta usaha-usaha pendidikan yang masih memerlukan penelitian dan percobaan, juga penanggulangan berbagai problematika yang hanya bisa diatasi dengan kesatupaduan yang lebih kuat, mau menerima kenyataan dan menerima kritik serta kebenaran dari pihak yang lain. Angin segar yang ditiupkan pemerintah sudah selayaknya dijadikan moment yang sangat baik, sehingga di masa-masa mendatang “Gontor” tidak saja mampu mewujudkan impian yang telah lama dibangun oleh “Trimurti” namun juga mampu memenuhi harapan umat. Sementara itu kita akan tetap menunggu sampai seberapa jauh Pondok Modern Darussalam Gontor dapat melanjutkan fungsinya dalam menanggulangi setiap tantangan yang ada.

At the least, dari semua paparan di atas, secara garis besar perspektif pemikiran pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh  K.H. Imam Zarkasyi di pesantrennya adalah dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. 1.     Madrasah dalam Pondok Pesantren

Pondok Modern Darussalam Gontor, pendidikan dan pengajarannya adalah bukan seperti pondok pesantren “tradisional” ataupun model “madrasah sekarang” sepenuhnya. Pondok Modern Darussalam memiliki corak khusus yang merupakan modifikasi dari sistem pengajaran madrasah. Kita dapat melihat secara jelas bahwa sistem pendidikan dan pengajaran agama yang paling baik adalah sistem Pondok Pesantren sedangkan pengajaran madrasah agama. Dengan demikian sistem pendidikan dan pengajaran agama yang paling baik adalah sistem “madrasah dalam pondok pesantren”. Inilah yang  menurut mereka dimaksudkan dengan “modern” dalam Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Jelasnya “Gontor” adalah suatu bentuk penggabungan sistem pengajaran madrasah dengan sistem pendidikan pondok pesantren.

  1. 2.     Bahasa, khususnya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris 

Sejak Trimurti hingga kini selalu berusaha menanamkan rasa cinta para santrinya terhadap bahasa Arab dan bahasa Inggris, karena keduanya merupakan kunci yang urgen dan determinan dalam mewujudkan kebangkitan Islam. Dengan bahasa Arab dapat diciptakan millieu Qurani, dan dengan bahasa Inggris dapat dikejar kemajuan jaman dan ilmu pengetahuan. Untuk mewujudkan lingkungan itu dibentuklah Bagian Penggerak Bahasa yang bertujuan mengelola dan menjaga serta mengembangkan citra bahasa yang telah ada. Pendeknya Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo make every effort to try it’s both Arabic and English, as the key to religion and science..

  1. 3.     Sistem atau Metode Belajar

Secara seragam dan dalam rentangan waktu yang cukup memanjang, pondok pesantren telah mempergunakan metode pengajaran sistem salafi yang lazim disebut dengan sorogan dan wetonan. Di Pondok Modern Darussalam Gontor sistem sorogan dan wetonan ditanggalkan untuk kemudian digantikan dengan sistem klasikal. Alat peraga diperkenalkan di sana, demikian juga latihan dan evaluasi dengan segala macam ragam variasinya dipergunakan. KH. Imam Zarkasyi melalui Pondok Modern Darussalam Gontor mencoba mencari jalan sendiri yang diharapkan dapat menghasilkan output yang banyak dan berkualitas dalam waktu yang relatif singkat. Untuk itu diintrodusir beberapa ilmu pelengkap seperti sejarah, ilmu bumi, aljabar dan bahasa asing. Balai pendidikan ini didirikan dengan pikiran tentang “boarding school” dan “day-school system” sebagaimana yang dapat dilihat sekarang.

  1. 4.     Manajemen

Dimaksudkan managemen di sini adalah hal ihwal yang menyangkut keseluruhan sistem tata laksana dan keseluruhan kerja sehingga Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo tetap eksis, termasuk di dalamnya kaderisasi. Badan wakaf ataupun kegiatan-kegiatan yang lain, baik ke dalam maupun kehidupan sosial kemasyarakatan di luar yang ditangani oleh Pondok Modern Darussalam Gontor[.]

 

 


DAFTAR RUJUKAN

A. Betencourt, What is Constructivism and Why Are They All Talking about It?, Michigan State University, 1989.

Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.

____________, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif  Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.

B. T. Wilkins, Hegel’s Philosophy of History. Ithaca: Cornel University Perss, 1974.

C. Fosnot, Constructivism: Theory, Prespectives, and Practice.New York: Teacher College, 1996.

Conny Semiawan, “Relevansi Kurikulum Pendidikan Masa Depan”, Basis, Nomor 07-08, Tahun ke-49, Juli-Agusutus 2000, halaman 32- 40. Yayasan BP Basis, Yogyakarta, 2000.

Dokumen Pondok, Asal Usul Salasilah Tegalsari Gontor Nglumpang, Dengan Sebagian Pokok-pokok dan Sebagian Ranting Tjabangnya. Data Dokumenter, t.t.

____________, Balai Pendidikan Pondok Pesantren Darussalam Gontor Ponorogo Indonesia, Serba Singkat Dengan Sejarah Perkembangannya Dalam Rangka Pembinaan Universitas Darussalam Gontor Ponorogo.  Data Dokumenter, t.t.

____________, Boeko Peringatan 15 Tahoen Pondok Modern Gontor Ponorogo Java, Pondok Modern Gontor Ponorogo, 1941.

____________, Kenang-kenangan 1926 Peringatan Delapan Windu 1991. Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, 1991.

____________, Kliping dan Ide-ide KH. Imam Zarkasyi. Data Dokumenter, t.t. 

____________, Kumpulan Makalah Seminar Dalam Rangka Memperingati 8 Windu Pondok Modern Gontor Ponorogo. Ikatan Keluarga Pondok Modern, Gontor Ponorogo Indonesia, 1991.

____________, Pendidikan Internasional, Pengantar Studi Perbandingan Antara Pendidikan Nasional, Kolonial dan Internasional. Makalah, t.t.

____________, Pondok Modern Darussalam Gontor, Dalam Sorotan Pers. Panitia Peringatan Delapan Windu 3 Juni – 22 Juli 1991, Pondok Modern Gontor Indonesia, 1991.

____________, Pondok Modern Darussalam Gontor, Dokumentasi Peringatan Delapan Windu 3 Juni – 22 Juli 1991, Panitia Peringatan Delapan Windu, Pondok Modern Gontor Indonesia, 1991.

____________, Pondok Pesantren, Kiai dan Ulama Dengan Sejarah, Jasa dan Fungsinya Dalam Pembangunan, sebuah Ontologi (Kumpulan Pikiran dan Pendapat Tentang Pondok, Santri dan Kiai), Institut Pendidikan Darussalam  “Pondok-Modern” Gontor, t.t.

____________, Sejarah Balai Pendidikan Pondok Modern Gontor Ponorogo Indonesia dari Zaman Wali ke Zaman Tegalsari Penggal I, Gontor di Masa Tegalsari, Pondok Modern, Sejarah Nama dan Cita-cita Di dalamnya.  Data Dokumenter, t.t.

____________,Wasiat Pesan Nasehat & Harapan Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, Almarhum KH. Imam Zarkasyi dan Almarhum KH. Ahmad Sahal pada Khataman Kelas VI Kulliyatul Muallimin Al Islamiyah Pondok Modern Gontor. Data Dokumenter, t.t.

Eliar Noer, Administrasi Islam di Indonesia. Jakarta: Yayasan Risalah, Rajawali Press, 1993.

H.A. Ali Sjaifullah, “Tentang Darussalam Pondok Modern Gontor” dalam Pesantren dan Pembaharuan, Jakarta: LP3ES, 1988.

Hafizh Dasuki, Keterpaduan Pendidikan Keagamaan, Sebuah Tinjauan Sejarah dan Perkembangan  Madrasah dan Pondok Pesantren, Disampaikan pada Wisuda Sarjana dan Sarjana Muda Universitas Islam “45” (UNISMA) Bekasi, 1988.

Imam Barnadib, Arti dan Metode Sejarah Pendidikan. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan FIP–IKIP Yogyakarta, 1982.

____________, Filsafat Pendidikan, Sistem & Metode, Yogyakarta: Andi Offset, 1997.

John Dewey, Democracy and Education: An Introduction to The Philosophy of Education, New York: The Macmillan Company, 1964.

____________, Democracy and Education: An Introduction to the philosophy of education., New York: The Macmillan Company, 1964.

Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Interpretasi Untuk  Aksi. Bandung: Mizan, 1991.

Lance Castle, Gontor, Dalam Sebuah Catatan, Terj. Hamid Fahmi. Gontor: Trimurti, 1991.

M. Dawam Raharjo, ”Perkembangan Masyarakat Dalam Perspektif Pesantren”, dalam Pergulatan Dunia Pesantren, Membangun Dari Bawah. Jakarta: P3M, 1985.

____________, Pesantren dan Pembaharuan, LP3ES, Jakarta, 1988.

Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Mutiara, 1979.

Moh. Munif Hasyim, Pondok Pesantren Berjuang Dalam Kancah Kemerde kaan dan Pembangunan Pedesaan. Surabaya: Sinar Wijaya, 1992.

Mukti Ali, Ta’li>m al-Mutaallim versi Imam Zarkasyi, Dalam Metodologi Pengajaran. Trimurti, Gontor, 1991.

Paul Suparno,  Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan.  Yogyakarta: Kanisius, 1997.

Paulo Freire, The Politic of Education: Culture, Power, and Liberation, alih bahasa Prihantoro, Agung dan Fudiyartanto, A.F., ReäD bekerjasama dengan Pustaka Pelajar.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Sindhunata (ed.), Pendidikan: Kegelisahan Sepanjang Masa. Yogyakarta: Kanisius, 2001.

T. Raka Joni, “Memicu Perbaikan Pendidikan Melalui Kurikulum”, Basis, Nomor 07-08, Tahun ke-49, Juli-Agusutus 2000, halaman 41- 48. Yogyakarta: Yayasan BP. Basis.

Ulumul Quran, No. 1, Vol. IV, Th. 1993.

von Glaserfeld, Knowing without Metaphisics: Aspect of the Radical Constructivist Position, In F. Steier (Ed.), Research and Refexivity: Toward a Cybernetic/Social Constructivist Way of Knowing. London: Sage, 1989.

Wardun, Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, 1412/1992.

____________, Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, 1413/1993.

____________, Risalah Akhir Tahun, Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, 1411/1991.

Zamakhsari Dhofir, Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. LP3ES, Jakarta, 1993.

Imam Zarkasyi, Diktat Kuliah Umum dalam Pekan Perkenalan di Kulliyatul Muallimin Al Islamiyah Pondok Modern Gontor Ponorogo. Gontor: Gontor Press, 1978.

 


* Penulis adalah Anggota LP2M Insuri Ponorogo.

[1] Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan. (Jakarta: LP3ES, 1988).

 

[2] Rahardjo, Pesantren, 2.

[3] Lihat Jurnal Ulumul Qur’an, Nomor I, Vol. IV, th. 1993.

[4] Rahardjo, “Perkembangan Masyarakat dalam Perspektif Pesantren” pengantar buku Pergulatan Dunia Pesantren, Membangun Dari Bawah (Jakarta: P3M, 1985).

[5] Rahardjo, “Perkembangan Masyarakat …”.

[6] Ali Sjaifullah, “Tentang Darussalam Pondok Modern Gontor” dalam Pesantren dan Pembaharuan (Jakarta: LP3ES, 1988).

[7] Lance Castle, Gontor, Dalam Sebuah Catatan, terj. Hamid Fahmi (Gontor: Trimurti, 1991).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s