Dari Kitab Kuning

Halaman

DARI KITAB KUNING, COMMUNITY DEVELOPMENT,

SAMPAI PONDOK PESANTREN MAHASISWA

Oleh: Imam Sayuti Farid*

Abstract : From a sociological point of view, santris, which are associated with the pesantrens, are considered as a pious Muslim community. They are also seen either as “sarungan” community or a “necktie” community which are commited to holding religious values in their social life. Also, from a semiotic perspective, santries are allegedly similar to the pesantren itself, which is historically regarded as an education institituion that has unique developments if compared to other education institutions. It is due to the fact that pesantrens can give the socio-religious services to their surrounding communities. They also play a siginificant role ini establishing the Republic of Indonesia, and aim to make its people intellectually aware. This function represents pesantrens as an agent of people’s empowerment (community development), not only moslem community living around the pesantrens, but also the whole nation in general, notably through education.

Keywords: pesantren, community development.

PENDAHULUAN

Realitas empiris menunjukkan bahwa masyarakat pendidikan sekarang ini sedang mengalami sebuah proses pergeseran mirip dengan apa yang oleh Thomas Kuhn disebut sebagai pergeseran paradigma (paradigm shift).  Sekarang ini para stake holders yang berkecimpung di dunia pendidikan sedang berusaha untuk mencari dan menemukan langkah-langkah “revolusi kognitif’ yang diharapkan mampu memberikan semangat baru bagi pembentukan dan pengembangan insan cita yang berkualitas dan dapat diandalkan di segala medan, situasi, dan kondisi, meskipun langkah-langkah itu kadang-kadang membingungkan sekaligus menakutkan karena seringkali muncul suatu makna baru dari pencarian itu, atau karena memang beragam measurement yang digunakan, atau bisa juga karena disalahartikan bentuk makna perubahan itu sehingga menimbulkan beragam kekaburan tersendiri. Menyadari betapa revolusi seringkali harus dibayar mahal maka sebagian orang lalu mengambil langkah yang lebih humanis dengan cara mengedapankan pemahaman manusia atas dasar perkembangan konsep secara evolutif, prosedural, dan kultural. Apapun langkah yang ditempuh oleh mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan, dengan meminjam pemikiran Kuhn, yang terpenting adalah manakala sebuah paradigma sudah tidak dapat digunakan lagi untuk memecahkan persoalan apalagi malah mengakibatkan konflik, maka penciptaan sebuah paradigma baru merupakan keniscayaan. Hal ini penting untuk dilakukan agar pergeseran yang terjadi, menjadi sebuah perubahan yang dapat memenuhi harapan semua pihak.[1]

Sejalan dengan itu, memang diakui bahwa sistem pendidikan yang komprehensif sudah dapat dipastikan akan menjadi tuntutan masyarakat dimasa depan apalagi bagi bangsa yang ingin maju maka pendidikan yang integral dan komprehensip jelas merupakan keniscayaan. Hal ini bisa dipahami karena perkembangan masyarakat dewasa ini menghendaki adanya pembinaan peserta didik yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengetahuan, kecerdasan dan ketrampilan serta kemampuan komunikasi dan kesadaran akan ekologi lingkungan. Sistem pendidikan yang diharapkan tersebut agaknya akan dapat dijawab oleh wujud pendidikan tidak hanya mengedepankan penguasaan sains dan teknologi tetapi lebih dari itu pendidikan yang diberlangsungkan merupakan sebuah proses pembentukan pribadi yang mamiliki tsaqafah Islam dan akhlaqul karimah. Pondok pesantren merupakan salah satu alternatifnya.

Pondok pesantren memang suatu lembaga pendidikan yang mempunyai bentuk unik dan bervariasi, oleh karena itu bervariasi pula fenomena yang dapat ditangkap dari lembaga pendidikan yang konon semula dianggap tradisional ini. Telah banyak hasil penelitian dan karya tulis ilmiah yang menyoroti pondok pesantren dari aspek yang bervariasi pula. Misalnya karya Martin Van Bruinessen (1995) yang memotret pondok pesantren dari sisi kitab literatur yang dipelajarinya, dengan judul “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia”. Tidak kalah menariknya karya tulis lain yang diedit oleh Mastuki, M.Ag dan M. Ishom El-Saha, M.Ag (2003) berjudul “Intelektualisme Pesantren”. Tulisan itu utamanya mengungkap tentang ciri khas yang paling menyolok dalam tradisi intelektual pesantren yakni jaringan, silsilah, sanad, ataupun genealogi yang bersifat musalsal (berkesinambungan) untuk menentukan tingkat efisoterisitas dan kualitas keulamaan seorang intelektual. Jelasnya, pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) telah banyak memperoleh perhatian, baik dari para ahli di Indonesia maupun dari luar Indonesia. Ketertarikan terhadap lembaga yang satu ini tidak hanya karena keberadaan lembaga tersebut yang cukup tua, tetapi karena berbagai hal yang menarik, unik, dan yang ada di dalamnya.

KARAKTERISTIK PESANTREN

Abdurrahman Wahid  menyebutkan pesantren sebagai sub kultur.[2] Dalam hal ini sudah banyak aspek utama dari kehidupan sub kultural tinggal dalam rangka ideal. Kriteria paling minim yang dapat dikenakan pada kehidupan pesantren sebagai sub kultur, meliputi lima unsur utama : (1) Ekosistensi pesantren sebagai sebuah lembaga umum di negeri ini, (2) Terdapat beberapa penunjang yang menjadi tulang punggung kehidupan pesantren, (3) Berlangsung proses pembentukan nilai tersendiri dalam pesantren, lengkap dengan simbol-simbol, (4) Terdapat daya tarik keluar, sehingga masyarakat sekitar menganggap pesantren sebagai alternatif ideal bagi sikap hidup, (5) Terjadi proses pengaruh mempengaruhi dengan masyarakat luar, yang pada gilirannya akan berkulminasi pada pembentukan nilai-nilai baru yang universal, diterima oleh kedua belah pihak.

Sementara itu, pesantren sebagai suatu kehidupan yang memiliki karakteristik tersendiri dapat dipahami dari lima aspek utama: Pertama, sistem pondok yang menjadikan proses pendidikan, dimana si pendidik bisa melakukan tuntutan dan pengawasan langsung. Kedua, keakraban hubungan antara santri dengan kiai dan para pendidik sebagai pembantu kiai. Ketiga, pesantren telah mampu menciptakan kemandirian atau menolong diri sendiri (self help) bagi para alumninya, sehingga siap untuk memasuki lapangan pekerjaan yang ada. Keempat, cara hidup kiai yang sederhana dan memperhatikan perhatian yang besar dalam melakukan penerangan bagi masyarakat, dan Kelima, pendidikan bagi pesantren cenderung “murah” biaya yang dibutuhkan.[3]

Untuk mengenal lebih mendalam dunia pesantren, seseorang tidak bisa hanya sekedar melihat atau mengetahui selintas, baik melalui bacaan, literatur, dokumentasi, dan observasi langsung terhadap pesantren tertentu, namun diperlukan waktu yang lama dan sekaligus menuntut yang bersangkutan untuk membaur (menjadi bagian) dari masyarakat pesantren yang ingin diketahuinya. Hal perlu dipahami, sebab berbagai hal yang tidak nampak secara empirik menggejala dalam kehidupan masyarakat pesantren, justru dapat dipahami manakala seseorang langsung bergaul menjadi bagian dari masyarakat pesantren untuk beberapa waktu yang lama.

FUNGSI KELEMBAGAAN PESANTREN

Keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan (Islam) tidak disangsikan lagi. Bahkan, lembaga yang satu ini mampu mengembangkan fungsi kelembagaan tidak hanya pada aspek pendidikan, tetapi sebagai lembaga sosial yang hidup, yaitu dengan melakukan berbagai kegiatan yang bersifat pengembangan masyarakat (community development). Dengan demikian, pesantren telah menunjukkan dinamika dalam perjalanan sebagai suatu lembaga yang selalu berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kiai sebagai pemimpin yang sekaligus pemilik lembaga pesantren, telah memahami dinamika kehidupan yang ada di masyarakat, sehingga keterbukaan untuk menangkap perubahan yang terjadi di luar pesantren cukup peka. Tanpa mengurangi fungsi utama pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam), pesantren telah mampu memberi pelayanan bagi masyarakat sekitar dalam berbagai hal yang dibutuhkan. Misalnya, melakukan kegiatan yang bersifat pengembangan masyarakat yang dilakukan melalui kerjasama dengan instansi/lembaga pemerintah maupun non pemerintah, di bidang pertanian, perikanan, peternakan, industri kecil serta koperasi. Hal tersebut dilakukan untuk menampung tuntutan dari masyarakat yang didasari atas perkembangan dan perubahan-perubahan yang selalu terjadi dalam kehidupan.

PENDIDIKAN DI PESANTREN

Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam (tafaqquh fiddin), dengan menekankan pentingnya moral agama sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari[4]. Penyelenggaraan pendidikan di lembaga pesantren berbentuk asrama yang merupakan komunitas tersendiri di bawah pimpinan kiai atau ulama, dibantu beberapa ustadz sebagai pembantu kiai. Proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan masjid atau surau, yang sekaligus sebagai pusat kegiatan peribadatan. Bangunan pondok (asrama tempat santri tinggal), rumah kiai, dan para pengurus ada dalam satu komplek sehingga kehidupan dalam pesantren menggambarkan kehidupan kolektif antara kiai, ustadz, santri dan para pengasuh/pengurus pesantren lainnya.  Zamakhsyari Dhofier  menyebutkan pesantren sebagai sosok asrama pendidikan Islam tradisional, dimana para siswa, yang kemudian lazim disebut “santri”, tinggal bersama-sama, belajar di bawah bimbingan kiai.[5] Asrama dan rumah kiai menjadi satu komplek, dengan beberapa tempat/ruang untuk belajar dan masjid sebagai tempat ibadah dan pelaksanaan kegiatan keagamaan yang lain. Karena pesantren tumbuh dan berkembang atas dasar cinta agama, maka keberadaannya akan segera hilang manakala motif dan corak keagamaan hilang.

PERKEMBANGAN DUNIA PESANTREN

Perkembangan yang “cukup” menonjol dalam kehidupan pesantren, adalah adanya kecenderungan memperluas fungsi kelembagaan pesantren, yang tidak terbatas sebagai lembaga keagamaan, melainkan sebagai lembaga sosial yang hidup. Sebagai lembaga sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya, pesantren mampu melakukan pekerjaan sosial kemasyarakatan yang merupakan pekerjaan sampingan atau malah titipan dari pihak luar pesantren, bahkan jika diperhatikan secara seksama, justru pekerjaan sosial tersebut akan memperbesar dan mempermudah gerak usaha pesantren dalam melakukan dan melaksanakan misi dan tugas-tugas yang diemban.

Pesantren dengan fungsi sosial akan mampu menangkap persoalan-persoalan kemasyarakatan. Karena, antara pesantren dan masyarakat pendukung selalu berinteraksi dan saling ketergantungan (interdependensi). Fungsi pelayanan sosial inilah yang kemudian mengangkat lembaga pesantren menjadi agent of social change. Sebagaimana dikemukakan oleh Suryata[6] pesantren akan mampu melakukan berbagai aktivitas dalam memberi pelayanan kepada masyarakat, seperti mengatasi kemiskinan, memelihara tali persaudaraan, memberantas pengangguran, memberantas kebodohan, menciptakan kehidupan yang sehat, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, pesantren mampu melakukan berbagai kegiatan sebagai pengembangan fungsi kelembagaan, dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat pendukung dan tantangan perubahan zaman.

TENTANG ISTILAH SANTRI DAN PESANTREN

Secara etimologi, istilah pesantren berasal dari akar kata pe-santri-an antara lain yang berarti tempat santri. Sementara, ada yang mengartikan santri sebagai sebutan khusus untuk murid-murid sekolah agama Islam. Jadi, pesantren adalah tempat berkumpulnya murid-murid sekolah agama Islam. Sudah dimaklumi, mereka berkumpul untuk belajar atau menuntut ilmu, biasanya dalam waktu yang cukup lama, sehingga melahirkan tradisi mondok atau menetap secara berasrama di tempat itu. Belajar atau menuntut ilmu merupakan aktivitas pendidikan. Karena tempatnya di pesantren, aktivitas pendidikan tersebut biasanya mengandung konotasi atau berkaitan dengan agama Islam, maka dapat ditarik pengertian bahwa pesantren adalah tempat berkumpulnya murid-murid atau santri untuk belajar atau menuntut ilmu agama Islam dengan cara mondok atau menetap berasrama. Dapat pula diartikan, bahwa pesantren adalah tempat penyelenggaraan atau lembaga pendidikan Islam dengan arti khas mondok bagi para murid atau santrinya. Muatan inti dari istilah pesantren memang terletak pada kata tempat belajar santri, atau mondok, atau tinggal di asrama. Sebagai tempat belajar para santri, maka ciri khas pesantren adalah terciptanya atmosfir keberagamaan sedemikian rupa, disamping atmosfir keilmuan dalam wujud kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar di pesantren berjalan seiring atau bahkan selalu diliputi suasana religiousitas, sehingga tidak bersifat semata-mata pengembangan intelektualitas yang nihil atau kering dari sentuhan nilai-nilai keagamaan seperti yang sering terjadi dalam dunia persekolahan umum sebagai akibat pengaruh budaya barat yang merambah ke berbagai aspek kehidupan pada zaman modern ini. Pesantren dalam pengertian tempat bermukimnya para santri, kendatipun sudah terjadi perubahan di sana-sini, namun pada umumnya masih tetap merefleksikan nafas ke-Islamannya yang kental. Begitu kentalnya dunia pesantren dengan nafas dan perilaku ke-Islamannya, antara lain juga tercermin dari konotasi pengertian santri yang bukan saja mengacu kepada orang yang sedang belajar atau menekuni ilmu-ilmu keagamaan di lingkungan komplek pendidikan yang berasrama melainkan juga mengandung pengertian sebagai orang yang memiliki kualitas sedemikian rupa dalam hal pengetahuan, sikap dan amal perbuatan yang semaksimal mungkin selaras dengan ajaran Islam. Jadi, istilah santri memiliki dua pengertian sekaligus, sebagai murid atau siswa di pesantren, dan bisa pula berarti orang yang taat atau patuh dalam menjalankan ajaran Islam. Dua pengertian tersebut, kelihatannya sangat berkaitan. Logikanya adalah karena begitu tekun mempelajari agama di pesantren, maka jadilah santri itu orang yang taat menjalankan ajaran Islam. Dengan demikian, pesantren merupakan tempatnya orang-orang yang taat melaksanakan ajaran Islam.[7] Muatan pengertian lain dari istilah pesantren adalah bahwa di tempat atau lembaga pendidikan Islam itu terdapat pondok atau asrama di mana para santri tinggal dan menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari. Mengapa mereka harus mondok atau tinggal di asrama, persoalan ini tentu menyangkut sejarah masa lalu pesantren yang sedemikian panjang dan berliku-liku. Yang jelas, menurut pemahaman zaman sekarang tinggal di pondok atau asrama dalam rangka menuntut ilmu di pesantren itu mempunyai beberapa keuntungan, antara lain efisiensi dalam memanfaatkan waktu, tenaga dan mungkin juga biaya, dibanding kalau harus mondar-mandir atau pulang pergi dari rumah, di samping manfaat lain untuk mendapatkan lingkungan hidup sehari-hari yang intens di bidang keberagaman. Dengan demikian, pondok atau asrama santri merupakan unsur penting pada sebuah pesantren. Begitu pentingnya, sehingga ada yang menganggap sama istilah pesantren dengan pondok atau pondok dengan pesantren, bahkan ada yang menggabung atau merangkai keduanya sehingga menjadi pondok pesantren. Tetapi sebenarnya, dalam kata pesantren sendiri sudah ada konotasi pondok dengan pengertian sebagai tempat tinggal para santri sehari-hari. Alasan yang lain, walaupun istilah pondok ada yang mengatakan berasal dari funduq (Bahasa Arab) yang berarti rumah penginapan atau hotel, akan tetapi akhir-akhir ini sering digunakan untuk menyebut vila atau tempat tinggal pribadi, kompleks perumahan atau real estate, panti sosial, bahkan untuk memberi nama sebuah yayasan non Islam. Dengan demikian, istilah pondok tidak secara otomatis menghadirkan konotasi sebagai lembaga pendidikan atau pembinaan umat dalam hal pemahaman dan pengamalan ajaran Islam.

Istilah pesantren, menurut penggunaan studi ini telah mengandung pengertian sebagai tempat atau lembaga pendidikan Islam yang memberikan pengajaran, bimbingan dan pelatihan tentang ilmu pengetahuan dan alamiah ke-Islaman dimana para santri, ustadz, dan kiai tinggal bersama di dalam sebuah komplek. Khusus di Jawa, paling kurang ada tiga istilah yang biasa dipergunakan, yaitu pondok, pesantren, dan pondok pesantren. Namun demikian, walau memakai sebutan apapun, model lembaga pendidikan Islam yang tengah dibicarakan ini sudah cukup dikenal dengan beberapa ciri khususnya. Kehadiran pesantren memiliki beberapa ciri khusus atau unsur pendukung utama, yaitu: ada sekelompok santri yang bermukim dan belajar di situ, ada kiai sebagai pemangku dan pimpinannya, ada sejumlah ustadz yang membantu atau melaksanakan tugas kiai, ada masjid atau mushalla untuk kegiatan ibadah, dan madrasah atau ruangan tertentu untuk pelaksanaan pendidikan sehari-hari, ada pemondokan atau asrama sebagai tempat tinggal warga pesantren, dan ada pengajaran, bimbingan dan pelatihan tentang ilmu dan amaliah ke-Islaman dari kiai dan para ustadz untuk kalangan santri.[8] Atas dasar ciri-ciri khusus semacam itulah, maka sampai di zaman modern sekarang pun pesantren masih cenderung menyandang predikat sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional.[9]

SINSTESIS PESANTREN-PERGURUAN TINGGI

Tradisionalisme pesantren yang ditandai oleh beberapa ciri khusus tersebut di atas, pada segi yang lain juga menjadikannya sebagai lembaga pendidikan Islam khas Indonesia. Hal ini berarti keberadaan pesantren memiliki akar yang kokoh dalam realitas kebudayaan masyarakat Indonesia. Kekokohan semacam itu sangat penting artinya, karena dimungkinkan dengan demikian akan mampu berperan sebagai benteng dan sekaligus filter yang efektif bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim dalam menghadapi serta bergulat dengan aneka pengaruh luar di era globalisasi. Sekaligus, kekokohan akar pesantren dalam bumi kebudayaan Indonesia, memungkinkan untuk berperan secara fleksibel dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat. Tegasnya, dari jasa pelayanan di bidang pengajaran agama Islam yang merupakan wujud murni aktualitas dirinya dimasa lalu akhirnya bergerak ke bidang-bidang sosial, ketrampilan, komunikasi dan informasi, tehnologi tepat guna, lingkungan hidup.

Pada sisi lain adalah benar kiranya bahwa pendidikan Islam yang diharapkan setidak-tidaknya haruslah merupakan pengembangan ranah intelektual dan spriritual. Berdasarkan kenyataan tersebut untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam perlu dikembangkan model pendidikan yang berbentuk sintesis antara model pesantren dengan tradisi modern misalnya perguruan tinggi. Bagi perguruan tinggi yang berkultur “NU” seperti halnya INSURI upaya pengembangan model pendidikan yang berbentuk sintesis ini tidaklah merupakan kesulitan, sebab sesungguhnya “kultur NU” telah memiliki kekayaan berupa pengalaman dalam pengelolaan lembaga pendidikan pesantren itu. Bahkan selama ini ada ungkapan bahwa NU adalah “pesantren besar” dan pesantren adalah “NU kecil”, sehingga jika perguruan tinggi Nahdlatul Ulama tidak mau kehilangan tradisi lamanya yaitu pendidikan yang menekankan pada pengembangan aspek spiritual/akhlak, maka NU dalam pengembangan lembaga pendidikan ke depan, akan lebih strategis jika menyempurnakan pesantrennya dengan perguruan tinggi. Sekali lagi yang dimaksud ialah sistesis antara tradisi pesantren dengan tradisi perguruan tinggi. Cara ini sesungguhnya telah dimiliki oleh Nahdlatul Ulama, sebagai landasan kuat filosofisnya, yaitu: “berusaha mempertahankan yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik”. Tradisi pesantren yang dipandang sebagai lembaga pendidikan yang sesuai dengan tradisi Nahdlatul Ulama tetap dipertahankan kemudian diperkokoh dengan tradisi perguruan tinggi. Melalui sintesis itulah maka diharapkan lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama semakin sempurna, yaitu mengembangkan aspek spiritual dan akhlak melalui pesantrennya dan disempurnakan dengan perguruan tinggi yang lebih menekankan pada pengembangan intelektualitas dan profesionalitas. Melalui model ini pula, PTNU akan mengaktualisasikan diri sebagai mazhab kultural dan sekaligus modern. Aspek kultural dimanifestasikan dalam bangunan kepesantrenannya, sedangkan wajah modern dimanifestasikan dalam bangunan perguruan tingginya. Untuk dimaklumi bahwa penyebutan perguruan tinggi di sini ulamanya bahkan perguruan tinggi yang mengembangkan ilmu-ilmu alam, ilmu sosial maupun humaniora, bahkan jika kaum Nahdliyin dalam mengembangkan lembaga pendidikan meninggalkan tradisi lama yakni pesantren, dan membangun tradisi baru sebatas bentuk pendidikan modern berupa perguruan tinggi, maka dapat dipastikan produk lembaga pendidikan NU akan tidak ada bedanya dengan produk lembaga pendidikan pada umumnya. Nahdlatul Ulama dengan kondisinya yang ada bersusah payah mencurahkan seluruh potensi membangun lembaga pendidikan modern, ujung-ujungnya hanya akan mengantarkan peserta didik menyandang sosok kepribadian yang bisa jadi tidak sejalan dengan tipe ideal sarjana yang dicita-citakan oleh NU.

Sintesis pesantren dan perguruan tinggi yang dikelola secara profesional, langsung atau tidak langsung, akan melahirkan berbagai keuntungan. Diantara keuntungan-keuntungan dimaksud adalah: (1) akan terjadi interaksi yang intens antara orang-orang yang berlatar belakang pendidikan agama Islam termasuk pesantren dengan orang-orang yang berlatar belakang perguruan tinggi sehingga dimungkinkan akan terjadi bentuk budaya baru yang tetap mengedepankan nilai-nilai kultural yang memang seharusnya dijunjung tinggi tetapi juga mengikuti nilai modern yang memang menjadi tuntutan masyarakat yang selalu berubah, (2) proses pendidikan akan berjalan lebih sempurna dan utuh. Model pendidikan pesantren yang selama ini nyata-nyata berhasil membekali para santri membangun intelektual, spiritual maupun sosial akan menutupi kekurangan yang dialami oleh pendidikan tinggi yang akhir-akhir ini justru semakin serius. Pesantren memiliki nilai lebih dibanding lembaga pendidikan lain, misalnya kebiasaan bersikap mandiri, memiliki jiwa intrepreneurship yang tinggi, lebih adaptatif dengan kebutuhan masyarakat melalui peran-peran kepemimpinan keagamaan yang dikembangkan, (3) bagi internal NU sendiri, dilihat dari perspektif perubahan budaya tidak akan mengalami goncangan. Perubahan budaya akan selalu membawa konsekuensi psikologis yang seringkali tidak ringan, (4) jika konsep ini berhasil diwujudkan, NU akan memberikan sumbangan yang mahal harganya, berupa alternatif model pendidikan, yang bisa jadi relevan dengan budaya bangsa Indonesia. Pemikiran-pemikiran yang diwacanakan bagian akhir ini kiranya dapat dijadikan inspirasi bagi terwujudnya Pondok Pesantren Mahasiswa, termasuk yang sedang didengungkan kembali di INSURI.

PENUTUP

Pergeseran paradigma dan penyelesaian problem pendidikan secara fundamental dan integral, mendesak untuk dilakukan. Pesantren Mahasiswa INSURI ini masih dalam tahap persiapan bahkan masih dipertanyakan keseriusan para elite pimpinan yang akan berperan sebagai pengelolanya. Bagi INSURI Ponorogo sebenarnya mencari tokoh kiai sekaligus pengurus dan majlis asatidz yang akan mengelola pesantren mahasiswa ini bukan hal yang sulit, sebab dalam jumlah yang memadai, beberapa dosen INSURI merupakan alumni pondok pesantren salafi maupun modern, toh mereka masih punya cukup waktu untuk berperan mewujudkan gagasan pesantren mahasiswa ini, apalagi bila upaya “rekruitmen” kiai dan ustadz ini diperluas sampai ke komunitas alumni INSURI, atau dengan cara menggaet mahasiswa aktif baik S1 maupun S2 yang capable dan kompentensif mengemban tugas sebagai tenaga pengajar dalam pesantren mahasiswa ini dengan model imbalan bebas SPP sebagian atau seluruhnya, maka INSURI agaknya tidak kesulitan.  Aktivitas murni pesantren mahasiswa ini terutama yang bersifat edukatif sudah barang tentu dilakukan di luar jam formal perkuliahan sehingga ruang kuliah dan masjid sumbangan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila yang sudah ada sangatlah memadai untuk mewujudkan obsesi ini. Satu-satunya yang mendesak untuk segera diwujudkan adalah asrama permanen santri. Tanah yang telah tersedia seluas ±500 m² merupakan tantangan managerial tersendiri bagi INSURI. Persoalan yang sangat mungkin mengedepan adalah perubahan dan perbaikan paradigma pendidikan menjadi paradigma ekonomi. Hal ini perlu diwaspadai sejak dini agar harapan untuk menciptakan proses pendidikan dan pengajaran yang murah, bermutu tinggi, dan islami sebagai bagian dari public servis bukan merupakan utopia tetapi benar-benar merupakan jawaban atas keterpurukan dan kemuraman wajah pendidikan nasional yang telah dan sedang berlangsung hingga kini.

Sebagai lembaga pendidikan yang bernaung di bawah panji-panji NU, Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo perlu selalu dan semakin sadar bahwa spektrum ahlussnnah waljama’ah (ASWAJA) merupakan keniscayaan dalam “kultur NU” karenanya tidaklah belebihan jika pesantren mahasiswa INSURI nantinya diharapkan menjadi laboratorium bagi rekonstruksi ASWAJA sehinga ASWAJA hadir secara lebih modern yang pada gilirannya nanti INSURI lebih mampu membidani lahirnya generasi yang shalih dan mushlih tidak hanya bagi kaum nahdliyyin tetapi bagi semua anak negeri sehingga INSURI lebih ber-manfaat dan ber-mashlahah bagi terciptanya civil society atau masyarakat madani atau yang dalam bahasa al-Qur’an disebut sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Semoga[.]

DAFTAR RUJUKAN

Abdurrahman  Wahid, “Pesantren dan Sub-Kultur” dalam Bunga Rampai Pesantren. Jakarta: Dharma Bhakti, 1974.

Imam Bawani, Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam: Studi tentang Daya Tahan Pesantren Tradisional. Surabaya: Al-Ikhlas, 1993.

J.D. Novak, The Theory of Education. Ithaca, New York: Cornel University Press, 1977.

M. Dawam Raharjo, Pergolakan Dunia Pesantren. Jakarta: P3M, 1985.

Mastuhu, Dinamika Sistem Pondok Pesantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS, 1994.

Nasrullah ZM. Zarkasyi, “Lembaga Pembudayaan Manusia: Darussalam Gontor” dalam Win Usuluddin, Sintesis Pendidikan Islam Asia-Afrika. Yogyakarta: Paradigma, 2002.

Sutomo dalam M. Dawam Raharjo, Pesantren dan Perubahan. Jakarta: LP3ES, 1983.

Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (2nd ed.). Chicago: University of Chicago, 1970.

Tolchah Hasan, “Hibrida Kultural dan Tradisi Intelektual Pesantren dari Masa ke Masa” dalam Mashudi HS dan M. Ishom EL Saha, Intelektualisme Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka, 2003.

Zaini Muchtarom, Santri dan Abangan di Jawa. Jakarta: INIS, 1998.

Zamakhsyari  Dhofier, Tradisi Pesantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantre. Jakarta: INIS, 1994.


* Penulis adalah Dosen Insuri Ponorogo.

[1] Lihat  Thomas Kuhn,  The Structure of Scientific Revolution (2nd ed.) (Chicago: University of Chicago, 1970) dan J. D. Novak, The Theory of Education (Ithaca, New York: Cornel University Press, 1977).

.

[2] Lihat Abdurrahman Wahid, “Pesantren dan Sub-Kultur” dalam Bunga Rampai Pesantren (Jakarta: Dharma Bhakti, 1974).

[3] Sutomo dalam M. Dawam Raharjo, Pesantren dan Perubahan (Jakarta: LP3ES, 1983).

[4] Mastuhu, Dinamika Sistem Pondok Pesantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren (Jakrta: INIS, 1994).

[5] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994).

[6] Lihat dalam Raharjo, M. Dawam, Pergolakan Dunia Pesantren (Jakarta: P3M, 1985).

[7] Zaini Muchtarom, Santri dan Abangan di Jawa (Jakarta: INIS, 1998).

[8] Zamakhsyari, Tradisi …

[9] Imam Bawani, Tradisionalisme dalam Pendidikan Islam: Studi tentang Daya Tahan Pesantren Tradisional (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s