Kristologi Islam

Halaman

KRISTOLOGI ISLAM DAN REFORMULASI DIALOG HUBUNGAN ISLAM-KRISTEN DI INDONESIA

Oleh: Ahwan Fanani*

 

Abstract : Muslim-Christian encounters began when muslems conquered areas subsequently part of Roman empire. Although Christian people generally welcomed moslem’s power warmly, but there was a tension between them, especially in theological aspects. Both parties claimed the truth from the same source. Polemic on theological discourses shaped an intellectual encounter between the two parties. The legacy of the polemic is still preserved in the books written either by moslem or Christian scholars.

In Indonesia, the encounter between both started when Dutch came. The main purpose of first Dutch VOC was trade, but the elemen of missionary could not be fully separated from economic activities. Christianity spread in the Archipelago faster in the era of colonialization. The encounter sometimes left the bitter experiences for the relationship between muslem and Christian.  The independency of Indonesia did not contribute anything but more seriouse problem. The new order era is the peak of tension between both parties which leads to open conflicts.

Christology is a field of study that is traditionally related to Christian’s concern on the history of Christ. However, Christology attracted some moslem’s attention. Moslem people feel that Christian is a threat for islamic growth in Indonesia. Christology in islamic society has a specific purpose, i.e. to protect moslem people from conversion. This field of study marks the dynamics of relationship between moslem and Christian in Indonesia.   

Keywords: Christology, New Order, dialogue, tension.

PENDAHULUAN

Kristologi adalah sebuah disiplin kajian yang unik. Di kalangan umat Kristen, Kristologi dipahami sebagai ilmu yang mempelajari tentang Yesus Kristus. Berbagai aspek Kristologi, sebagaimana dijelaskan oleh C. Goenen Ofm adalah pengetahuan mengenai Kristus, pemikiran, dan ucapan mengenai Yesus Kristus. Kristologi mencakup pembahasan mengenai bagaimana umat Kristen, harus, boleh, dan dapat mengkonseptualkan serta membahasakan imannya kepada Yesus dan bagaimana umat Kristen memikirkan kedudukan dan peran Yesus Kristus dalam tata penyelamatan, baik di masa sekarang atau di masa lampau.[1]

Di kalangan umat Islam, Kristologi telah lama dikenal, semenjak munculnya agama Islam itu sendiri. Al-Qur’an dalam berbagai kesempatan menyebut tentang umat dan agama Yahudi dan Nasrani. Keduanya dikenal dengan sebutan ahl al-kita>b. Al-Qur’an seringkali melakukan kritik terhadap kedua pemeluk agama tersebut. tema-tema umum yang menjadi kritikan Al-Qur’an terhadap kedua agama tersebut adalah adanya tah}ri>f (pengubahan isi ayat suci) dan penyimpangan ahli agama (rahib) sehingga menjadikan ajaran agama tersebut dipandang tidak lagi lurus.

Dalam sejarah Islam, banyak ulama Islam yang memberikan perhatian terhadap kajian mengenai Kristologi. Ibnu Taimiyyah dalam al-Tafsi>r al-Kabi>r, misalnya, mengkritik tentang ketuhanan Isa, pemahaman ruh kudus, dan tuduhan pihak Kristen bahwa Al-Qur’an  mempersamakan semua agama.[2] Hal yang sama dilakukan oleh banyak ahli-ahli kristologi versi Islam, seperti al-Shahrastani, Ibn H}azm,[3] al-T}u>fi, al-Ghaza>li,[4] dan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah.[5] Semua berada dalam satu barisan, yaitu melanjutkan kritik-kritik Al-Qur’an terhadap dua agama satu rumpun, yaitu rumpun semitis.  

Kristologi versi Islam merupakan bentuk dialog antara umat beragama. Dialog tersebut terjadi dalam level kognitif dan lebih menitikberatkan upaya apologis terhadap keyakinan masing-masing. Hal itu merupakan konsekuensi logis dari pertemuan antara penganut agama yang masing-masing berusaha mempertahankan identitas di tengah keberadaan kelompok lain yang memiliki klaim atas sejarah yang hampir sama. Montgomery Watt dengan sangat baik menggambarkan bagaimana proses dialog tersebut terjadi. Ia melihat bahwa dialog agama tersebut bersifat polemik dan apologetis.[6]

Tumbuhnya Kristologi dalam wacana pemikiran Islam populer di Indonesia dilatarbelakangi oleh berbagai persinggungan antara umat Islam dan Kristen yang diwarnai dengan sikap saling curiga dan antagonistik. Sejak era kolonial, umat Islam dan Kristen berkompetisi untuk memenangkan hati penduduk asli Indonesia yang masih dikuasai oleh kepercayaan nenek moyang. Islamisasi yang berjalan terlebih dahulu mendapatkan pesaing dari para missionaris Kristen, yang dalam taraf tertentu mendapatkan dukungan dari pemerintah kolonial Belanda.

Hubungan yang diwarnai prasangka tersebut dilanggengkan oleh dua faktor. Pertama, konflik dan benturan kepentingan di lapangan antara pemeluk Islam dan Kristen. Beberapa dari benturan tersebut menimbulkan konflik yang memprihatinkan. Kedua, masing-masing pihak mengembangkan diskursus yang membenarkan sikap defensif maupun ofensif untuk berhadapan dengan pihak lain. Diskursus itulah yang mewariskan kenangan, mental, dan sikap di kalangan in-group umat Islam maupun Kristen.      

Hingga sekarang, kristologi masih diminati sebagian umat Islam untuk memposisikan dan meyakinkan diri dalam pertemuan dengan umat agama lain, khususnya Nasrani. Kristologi menjadi alat untuk memperjelas posisi diametral antara Islam dengan Kristen melalui upaya apologis untuk menegaskan kebenaran Islam dan membuktikan kebatilan iman Kristen. Pendekatan yang apologis dalam Kristologi berbanding terbalik dengan kajian keislaman di kalangan sarjana-sarjana Barat yang justru menunjukkan arah yang semakin positif.

Kajian Kristologi menunjukkan tren polemik sebagaimana terjadi pada sepuluh abad lalu. Karya-karya yang ditulis oleh para ahli Kristologi adalah upaya-upaya untuk menjawab kritikan terhadap Islam atau untuk menyerang keyakinan Kristiani. Tokoh-tokoh seperti M. Arsjad Thalib Lubis[7], Abdullah Wasian, Bey Arifin[8], Hamka[9], Bahauddin Mudhori[10], dan Irene Handono[11] adalah pakar-pakar kristologi di Indonesia. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Jemaat Ahmadiyah adalah organisasi-organisasi yang memiliki perhatian besar untuk membendung arus kristenisasi dan bersemangat untuk melakukan “imunisasi” teologis terhadap umat Islam.

Kajian-kajian kristologi pun menjadi sebuah spesialisasi di sebagian kalangan umat Islam. Munculnya Forum Arimatea[12] di Jakarta dapat dipandang gerakan terorganisir untuk mengembangkan bidang kajian tersebut. Forum tersebut mengirimkan ahlinya ke berbagai daerah untuk memberikan pendidikan tentang Kristologi. Forum Arimatea juga menyelenggarakan debat terbuka antara pakar kristologi atau muallaf dengan pendeta.[13]

Keberadaan Kristologi versi Islam di Indonesia merupakan sebuah fenomena yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang hubungan antara umat beragama, khususnya umat Islam dan Kristen. Meskipun demikian, fenomena kristologi di Indonesia dilatarbelakangi oleh faktor-faktor yang khas, yang membedakannya dengan kristologi yang ada sepuluh abad lalu. Karena itu, kajian mengenai kristologi versi Islam di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari konteks keindonesiaan. Makalah ini adalah upaya melihat kristologi versi Islam di Indonesia dalam kerangka dialog agama dan pembentukan identitas kelompok. Pijakan tulisan ini terletak kepada pertemuan dan dialog dalam bentuk kristologi dalam level kognitif dan pertemuan melalui karya-karya tertulis yang diikuti dengan evaluasi dari sudut pandang dialog agama.

PERKEMBANGAN MINAT TERHADAP KRISTOLOGI

Minat kajian Kristologi berbanding lurus dengan kesadaran beragama dan kesadaran keumatan. Semakin tinggi perhatian seorang muslim terhadap pengembangan agamanya, semakin sadar ia mengenai peluang dan ancaman terhadap dakwah Islam. Minat terhadap Kristen

Meskipun demikian, secara individual perhatian terhadap kristologi tetap ada. Waryono Abdul Ghafur menulis buku Kristologi Islam: Telaah Kritis Kitab rad al-Jamil Karya al-Ghazali.[14] Buku tersebut merupakan studi atas kitab Radd al-Jamil li Ilahiyyati Isa bi Sharih al-Injil. Buku itu oleh penulisnya dipandang sebagai bagian dari Islamic Cristology yang telah diperkenalkan oleh Al-Qur’an dan dilanjutkan oleh para teolog sendiri. Waryono mengakui bahwa kristologi lahir dari kalangan ulama-teolog sehingga sarat nuansa penghakiman sehingga kristologi bersifat apologis. Ia melihat bahwa sifat kristologi yang kaku terkait dengan kontek sejarahnya. Sementara untuk saat ini, dengan terbukanya sekat isolasi antar umat beragama, suasana dialogis lebih bermakna dibandingkan dengan suasana polemik.[15]

Penelitian terhadap karya al-Ghazali dilakukan Waryono didasari oleh ketertarikannya terhadap sosok al-Ghazali yang ternyata bukan hanya ahli filsafat, fikih, atau tasawwuf melainkan sebagai ahli kristologi. Al-Ghazali melakukan kritik terhadap Injil tidak dengan mempermasalahkan keabsahan injil melainkan dengan melakukan uji logika terhadap ajaran dasar Injil berdasarkan prinsip koherensi.[16]

Melalui metode deskriptif-analitis terhadap kitab Radd al-Jamil, Waryono sampai kepada kesimpulan bahwa kritik al-Ghazali terhadap iman Kristen didasarkan atas responnya terhadap penyimpangan dalam ajaran Kristen. Al-Ghazali melakukan kritik setelah melakukan pengkajian terhadap Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Al-Ghazali masih menunjukkan rasa simpati terhadap Injil dengan mengakui adanya beberapa aspek kebenaran dalam Injil, tetapi kesimpulan yang diperolehnya paralel dengan arus utama kajian Kristologi di kalangan umat Islam yang mencoba memahami Yesus dalam kerangka iman Islam.[17]

Perhatian terhadap kristologi di Indonesia sebenarnya tidak dimulai oleh Waryono, melainkan jauh sebelumnya. Pada tahun 1929 telah terjadi polemik terkait dengan tulisan Hendik Kraemer yang berjudul Agama Islam tahun 1929. Buku tersebut ditujukan untuk membekali para guru Kristen pengetahuan tentang agama Islam. Buku tersebut mengandung beberapa informasi yang dipandang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti asumsi bahwa Muhammad bisa membaca dan menulis, Muhammad lemah karena harus memindahkan kiblat dari Yerusalem ke Makkah karena kebencian terhadap Yahudi, dan tuduhan munculnya ayat-ayat Setan terkait dengan kisah Gharaniq.[18] Hal-hal tersebut tentu saja membuat marah kelompok Islam.

Seorang pemimpin Muhammadiyah, A.D. Hannie, kemudian menulis buku dengan judul Islam Menentang Kraemer. Buku tersebut ditujukan untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ada dalam buku Kraemer. Haanie menuduh Kraemer sebagai orang yang tidak adil dan fanatik. Ia hanya menekankan kelemahan Muhammad untuk memperkuat agamanya sendiri.[19]

Kasus serupa terjadi tahun 1933. Seorang pendeta Jesuit di Muntilan, J.J. Ten Berg, menerbitkan dua artikel mengenai Al-Qur’an dalam Jurnal Studien. Ia mengutip ayat Al-Qur’an surat al-Maidah ayat 79 tentang keberadaan Isa sebagai seorang Rasul semata, yang makan sebagaimana makhluk lain. Berg mengkritik ayat tersebut dengan mengkritik Muhammad yang ia pandang tidak akan mampu memahami gagasan tentang Bapa. Ia mencela Muhammad sebagai tokoh tumbuh dari masyarakat Arab yang tidak berbudaya dan biasa tidur dengan perempuan sehingga sulit untuk memahami gagasan abstrak.[20]

Muhammad Natsir menulis artikel untuk menanggapi tulisan Berg.[21] Ia mengecam Berg dan mengkritik bahwa seharusnya ucapan demikian tidak keluar dari seorang yang terdidik. Ia mempergunakan kesempatan tersebut untuk mengkritik penghinaan secara umum terhadap Islam. Pemerintah merespon kritik Natsir dan mengecam pernyataan Berg.

Muhammad Natsir tidak hanya menerbitkan tulisan-tulisan dalam kerangka merespon aksi pihak Kristen, tetapi ia juga merespon pihak sekuler dan mistik Jawa. Ten Berge hanya satu dari beberapa penulis Kristen yang tulisannya mendapatkan respon dari Natsir. Kritikan Domingus Christoffel terhadap Nabi Muhammad dan Islam yang dipandang meluka perasaan orang Islam juga mendapatkan respon dari Natsir. Ia menulis artikel Qur’an en Evangelie dan Muhammad als Profeet sebagai bentuk kontra wacana.[22]

Karya Kristologi, sebagaimana dilakukan Natsir, kemudian berkembang sebagai tindak lanjut dari polemik dengan para penulis Kristen tersebut. Artikel Natsir di Majalah Pembela Islam No. 30 tahun 1930 sudah masuk ke dalam bidang Kristologi versi Islam. Ia menulis artikel dengan judul Ruh Suci (Ruh Kudus). Dalam tulisan tersebut, Natsir sudah mengungkapkan cara pandang Islam mengenai otentisitas Injil. Ia melakukan perbandingan isi antara Injil dan menunjukkan kontradiksi antara isi satu Injil dengan Injil yang lain. Ia menyimpulkan bahwa isi Injil sudah mengalami perubahan-perubahan.[23]

Perbedaan isi antar Injil tersebut membawa Natsir kepada langkah selanjutnya, yaitu mempertanyakan kredibilitas Ruh Suci (Ruh Kudus). Umat Kristen mempertahankan gagasan Ruh Suci sebagai pelindung Injil. Ketika ternyata isi Injil terbukti kontradiktif, Natsir kemudian mempertanyakan kesucian dan kebenaran Ruh Kudus.[24]

Periode 1900-1965 tidak banyak melahirkan tokoh Islam yang menekuni bidang Kristologi. Pasca Hanie dan Natsir, tidak banyak buku yang cukup serius mengkaji Kristologi.  Tahun 1959 patut dicatat tentang lahirnya buku Isa dalam Qur’an Muhammad dalam Bible karya Hasbullah Bakry dan O. Hashem. Buku tersebut terbit sebagai reaksi atas tuliasn F.L. Bakker yang berjudul Tuhan Yesus dalam Agama Islam.[25] Buku Bakker tersebut berusaha mengungkap pengaruh Kristen terhadap Muhammad dan Islam secara umum.

Tentu saja pandangan Bakker tersebut menyinggung perasaan umat Islam yang berkeyakinan bahwa ajaran Islam berasal dari wahyu. Hasbullah Bakry kemudian menunjukkan bagaimana agama Kristen telah mengalami penyimpangan dan membuktikan bahwa Muhammad sebenarnya telah diisyaratkan kedatangannya oleh Injil itu sendiri. Bakry menggunakan metode kritik Injil dan kritik literatur.[26] Hasbullah Bakry pada tahun 1983 menulis sebuah paper yang dipresentasikan di depan Seminar Dewan Gereja. Paper tersebut kemudian diterbitkan dengan judul Pandangan Islam tentang Kristen di Indonesia oleh CV Akademika Pressindo.[27]

Buku tersebut merupakan sebuah refleksi terhadap hubungan umat Islam dengan Kristen. Di dalamnya ia juga membahas bagaimana umat Islam memandang agama Kristen. Buku Hasbullah memuat empat pokok bahasan utama:

1.  Pandangan agama Islam terhadap agama Kristen,

2.  Hubungan umat Islam dengan umat Kristens Sepanjang Sejarah Dunia,

3.  Hubungan umat Islam di Indonesia bersama umat Kristen di Indonesia sepanjang sejarah Indonesia,

4.  Pandangan umat Islam Indonesia terhadap umat Kristen Indonesia Dewasa ini.

Bakry mengemukakan sikap Al-Qur’an terhadap Yahudi dan Nasrani. Isa mengajak umatnya untuk beriman semata-mata kepada Allah, tetapi di kemudian hari para pengikut Isa menyeleweng. Al-Qur’an menyatakan bahwa Yahudi dan Nasrani telah kafir karena hanya mengikuti sebagian nabi dan mengubah kitab suci mereka. Tugas umat Islam adalah mengajak orang Yahudi dan Nasrani kembali kepada ajaran asli para nabi.[28]

Bakry kemudian melihat kajian hubungan Islam dan Kristen utamanya dalam kasus perang Salib dan penjajahan Barat. Ia menunjukkan bahwa dalam sejarah, banyak orang Kristen yang membenarkan iman Islam dan menolak trinitas, tetapi kemudian dipenjara atau dihukum mati. Bakry berusaha menunjukkan adanya persoalan dalam iman Kristen, khususnya mengenai doktrin trinitas.

Bakry juga mencatat berbagai perkembangan Kristen di Indonesia pada masa penjajahan. Ia kemudian mengungkapkan beberapa ragam pandangan umat Islam terhadap Kristen, yaitu dari golongan tradisional, modern Barat, dan ulama  modern. Ia mengemukakan model tanggapan yang diberikan masing-masing terhadap Kristen.[29]

Buku Bakry dilandasi asumsi dasar bahwa semua agama wahyu dan semua nabi mengajarkan iman yang sama. Barulah sepeninggal para nabi muncul penyimpangan-penyimpangan. Karena itu, Bakry mengajak agar umat Yahudi, Kristen, dan juga umat Islam untuk meneliti ajaran masing-masing untuk menemukan penyimpangan di dalamnya. Buku Bakry bukan sebuah kajian tentang krsitologi secara khusus, tetapi ia menyumbangkan klasifikasi pemikiran umat Islam terhadap agama Kristen.

Buku Membendung Arus: Respons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Missi Kristen di Indonesia karya Alwi Shihab menyediakan informasi yang baik tentang hubungan lahirnya Muhammadiyah dengan gerakan kristenisasi di Indonesia. Ia mengkaji Muhammadiyah dalam kerangka penetrasi Barat dan Kristen di Indonesia. Penelitian Alwi diarahkan kepada penggalian akar yang memicu ketegangan antara Muslim dan Kristen dan mengusulkan cara agar ketegangan tersebut diatasi.

Pendidikan, pelayanan kesehatan, dan bantuan keuangan adalah sarana-sarana yang digunakan oleh para missionaris untuk menggaet pemeluk baru. Karena itu, Muhammadiyah kemudian melakukan upaya tanding dengan memberikan perhatian besar terhadap tiga persoalan di atas. Muhammadiyah juga mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah, khususnya pemerintah Hindia Belanda, yang menganakemaskan Kristen.

Pemetaan terhadap era kajian Kristologi dibuat oleh Ahwan Fanani. Fanani membuat tiga kelompok era Kristologi dengan berdasarkan tren isu yang berkembang di masing-masing. Ada sisi-sisi yang tetap pada masing-masing era dan ada sisi-sisi yang berubah. Sisi-sisi yang tetap adalah tema diskursus  yang menjadi perhatian di masing-masing era, dan sisi-sisi yang berubah adalah cara ekspresi, situasi sosial-politik, dan kasus-kasus yang diangkat.[30]

Era Orde Baru dan Era Reformasi menandai sebuah ketegangan yang meningkat antara pemeluk Islam dan Kristen. Ketegangan tersebut mengalami ledakan pada Akhir era Orde Baru dan wal Era Reformasi dengan konflik-konflik terbuka yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Konflik-konflik tersebut sekaligus menumbuhkan sikap antagonistik antara pemeluk kedua umat.

TITIK TOLAK DISKURSUS “KITA” VERSUS “MEREKA”

Islam lahir sebagai tradisi ketiga agama-agama besar yang berasal dari ras Semit (Syamiyyah),[31] yaitu Yahudi, Krsiten, dan Islam. Islam tidak dimaksudkan sebagai agama baru, melainkan sebagai penerus tradisi agama yang telah ada sebelumnya. Agama Islam bertemu dengan kedua agama lain dalam tradisi monoteistiknya. Kata Islam, sebagai istilah generik, mencakup pesan-pesan yang dibawa oleh para nabi terdahulu, dan dengan demikian mencakup pesan-pesan yang dibawa oleh agama Yahudi dan Nasrani.

Ketiga tradisi tersebut berakar dari monotesime (tauhid) yang dipercaya bersumber dari pencarian Ibrahim.[32] Al-Qur’an menyebutkan bahwa bukanlah Yahudi atau Nasrani yang benar, melainkan millah (agama) Ibrahim yang hanif. Kata hanif merujuk kepada pengertian al-mayl ila al-haqq (selalu cenderung kepada kebenaran). Gagasan kebenaran itulah yang menjadi pola iman dan pola laku umat Islam. Al-Qur’an sejak awal telah memerintahkan membaca (iqra’) karena kebenaranlah yang akan menyelamatkan umat manusia.[33] Kebenaran dalam Islam menjadi sentral karena Firman Allah turun sebagai bahasa dan bacaan (al-Quran secara bahasa berarti al-maqru’).

Ketiga agama besar tersebut mengakui monoteisme sebagai sentral ajaran mereka. Mereka mengakui adanya Tuhan yang transenden, tetapi tetap terlibat dalam urusan dunia sehingga Tuhan pun immanen kuasanya di alam semesta. Tuhan yang transenden sekaligus berperan secara immanen di alam semesta tersebut membedakan antara ajaran tauhid agama-agama Semit dengan keesaan pasif dalam filsafat Yunani. Dalam filsafat Yunani, Tuhan dipahami sebagai realitas mutlak yang tidak terjangkau indera dan bersifat misterius. Hubungan Tuhan dengan alam tidak bersifat langsung karena Tuhan beremanasi sehingga tercipta benda-benda. Semakin kasar benda-benda, maka semakin jauh benda tersebut dari Tuhan. Gagasan tersebut dianut utamanya oleh Neoplatonisme, yang kemudian masuk ke dalam filsafat Islam, seperti Ibnu Sina dan al-Farabi, dan mistik Islam, seperti Ibnu Arabi.

Selain monoteisme, ketiga agama tersebut memiliki gagasan yang sama mengenai creatio ex nihillo (penciptaan alam dari ketiadaan) dan sejarah kehidupan yang linier yang berakhir kepada kehidupan akhirat. Sementara itu, sebagian besar filsafat Yunani melihat wujud benda-benda dan alam sebagai sesuatu yang tidak berawal dan berpucuk kepada diri Yang Satu. Yang Satu tersebut disebut sebagai penggerak pertama atau aktus murni (menurut Aristoteles) atau the One (Yang Esa/ menurut Plotinus). Sejarah yang bersifat linear dalam ketiga agama berbeda dengan tradisi dalam agama Arya, yaitu Hindu dan Buddha yang mengakui tumimbal lahir (inkarnasi). Kehidupan, bagi agama Arya, tidak berakhir pada sebuah titik melainkan terus berputar. Sejarah dalam agama-agama Arya bersifat siklikal (cakra manggilingan). 

Meskipun berbasis kepada monoteisme, ternyata apresiasi ketiga agama tersebut sering terlibat dalam berbagai ketegangan dalam memperebutkan supremasi kebenaran. Keterkaitan sejarah antara ketiga agama tersebut justru menjadi titik rawan konflik. Umat Yahudi memandang agama Nasrani sebagai penyimpangan dari doktrin Yahudi, sementara itu umat Nasrani memandang agama Nasrani sebagai koreksi atas kegagalan agama Yahudi menjadi penyelamat umat manusia.

Hal yang sama terjadi antara umat Islam dan Kristen. Umat Kristen memandang Islam sebagai bidat, sementara umat Islam memandang Nasrani sebagai agama yang tersesat setelah mendapatkan petunjuk. Islam datang untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh umat Kristen dalam memahami wahyu ilahi dan menunjukkan koreksi tersebut.

Klaim-klaim kebenaran masing-masing dibangun di atas kesalahan atau penyalahan pihak lain. Klaim-klaim tersebut dengan mudah menciptakan oposisi biner antara “kita” dan “mereka” dengan atribusi segala kualitas positif kepada kita dan kualitas negatif pada mereka.

 

Kita                                 Mereka

Kebenaran                               Kesalahan

Malaikat                                  Setan/Iblis

Cahaya                                                Kegelapan

Surga                                       Neraka

Petunjuk                                  Kesesatan

Keselamatan    oposisi biner    Kecelakaan

                                                 

Kristologi melayani sebuah kebutuhan untuk memberikan pembenaran terhadap cara pandang yang bersifat oposisi tersebut. Tanpa cara pandang yang oposisi, identitas yang dibangun di atas keimanan tersebut akan pudar. Jadi, diskursus yang dikembangkan oleh Kristologi adalah melayani citra diri yang membentuk kerangka identitas. Kristologi menyediakan sebuah pembenaran rasional atas mitologi keperbedaan mutlak antara ketiga agama Ibrahim tersebut, utamanya antara Islam dan Kristen.

Diskursus seringkali hanya bertujuan memenuhi kebutuhan sebuah skema pandang terhadap kelompok lain yang memungkinkan identifikasi diri dan kelompok lain sebagai dua entitas yang berbeda dan berkonflik. Diskursus bisa bersifat mitis karena kebenarannya sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tetapi ia bersifat nyata karena diyakini dan dijadikan pedoman untuk memahami situasi hubungan.

Kristologi versi Islam dapat dibaca dalam kerangka diskursus tersebut. Kristologi melayani kebutuhan akan sebuah cara pandang terhadap umat Nasrani. Dengan cara pandang tersebut didefinisikan sikap seharusnya yang harus diambil oleh umat Islam terhadap aktivitas umat Kristen. Sejak awal perkembangannya, Kristologi ditekankan kepada persoalan-persoalan teologi dan isu penetrasi pihak lain (Kristrenisasi).  Hal itu ditegaskan juga oleh Th. Sumartana. Menurutnya, hubungan antara Islam dan Kristen bersifat apologetis, polemis, dan bahkan antitesis karena keduanya saling bergumul berdasarkan atas otoritas Wahyu Ilahi. Kedua agama berdiri di atas landasan tentang Firman yang eksklusif yang menekankan monotehisme dan eksklusivitas kebenaran yang ditemukan dalam wahyu mereka[34]

MENUJU KRISTOLOGI RAMAH DIALOG

Dengan demikian, tema-tema teologis yang diangkat dalam Kristologi sebenarnya menjadi garis demarkasi antara Islam dengan Kristen. Islam sebagai ajaran dengan gagasan monotheisme yang ketat mengkritik trinitas sebagai sebuah pseudo-politheisme. Sejak abad pertengahan hingga saat ini kontroversi tentang persoalan trinitas menjadi tema favorit kajian kristologi. Secara nalar, trinitas memang sulit dipahami sehingga seringkali menjadi sasaran kritik, tidak hanya oleh umat Islam, tetapi dari kalangan umat Nasrani sendiri.

Perdebatan antara umat Islam-Kristen berawal dari kenyataan bahwa kedua agama tersebut memiliki kedekatan historis. Pertama, kedua agama berasal dari tradisi agama Semitik yang melahirkan agama-agama besar Ibrahim, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Kedua, sejarah-sejarah umat terdahulu yang dirujuk oleh ketiga tradisi agama tersebut dapat dikatakan sama, meskipun ada perbedaan detail narasinya dan perbedaan interpretasi atas sejarah tersebut. Ketiga, kedua agama tersebut mengkalim sebagai agama monotheis dan bersumber dari monotheisme, meskipun dalam kasus Kristen, monotheisme tersebut mengandung kerancuan dalam doktrin trinitas. Keempat, kedua agama memiliki klaim mengenai kebenaran eksklusif masing-masing. Dalam Kristen dikenal istilah extra eccelisia nulla sallus (di luar gereja tidak ada keselamatan), dan di Islam dikenal ayat yang menyebutkan inna al-din ‘inda Allah al-Islam (sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam).[35] Kelima, kedua agama merupakan agama missi yang menyuruh umatnya untuk mendakwahkan atau mewartakan kebenaran masing-masing.

Berbagai segi persamaan tersebut merupakan potensi bagi lahirnya konflik yang keras. Secara teoritis konflik paling keras lebih dimungkinkan terjadi di antara dua kelompok yang memiliki banyak kesamaan. Setiap kelompok membutuhkan sebuah indikasi pembeda untuk menegaskkan identitas masing-masing. Semakin banyak persamaan antara kedua kelompok, semakin keras usaha keduanya untuk mencari dan membesarkan perbedaan keduanya guna memberi arti kepada identitas masing-masing. Faktor di atas akan mendapatkan momentumnya apabila terjadi ketimpangan sosial, baik yang bersifat nyata ataupun imajiner. Isu itulah yang akan digunakan sebagai sarana pembenar dan sarana mobilisasi berdasarkan kesamaan identitas. Dalam sebuah konflik akan selalu ditemukan diskursus (wacana) di masing-masing pihak yang menjadi justifikasi mengapa mereka harus berhadapan dengan kelompok lain.

Kristologi teoritis bagaimana menyediakan bahan-bahan bagi pembagunan diskursus yang melanggengkan perbedaan antara Islam dan Kristen. Berbegai tema yang diangkat dalam Kristologi Islam menemukan justifikasinya dari Al-Qur’an. Karena itu, tema-tema bahasan dalam Kristologi Islam berkembang di sekitar tema-tema yang diangkat oleh Al-Qur’an. Di antara tema-tema yang umumnya menjadi bahasa Kristologi antara lain:[36]

  1. Eksistensi Bijbel di masa kini. Sekali lagi, otentisitas Alkitab (Bible) dan kontradiksi dalam Bible menjadi sasaran kritik penulisnya.
  2. Perbedaan versi beberapa klaim sejarah antara Bible dan Al-Qur’an.
  3. Trinitas dalam ajaran Kristen.
  4. Korban dan penebusan dosa.

Meskipun demikian, kristologi tidak cukup dilihat sebagai sebuah kajian yang independen tanpa terkait dengan isu-isu sosial yang ada. Isu-isu Kristenisasi yang banyak muncul pada awal pemerintahan Orde Baru dan ketakutan bahwa pemerintah banyak dikendalikan oleh orang Nasrani turut memberikan sumbangan terhadap upaya defensif melalui kajian kristologi tersebut. Sikap saling curiga dan keinginan untuk membentengi komunitas sendiri dari “ancaman” missi agama lain (Nasrani) membuat kelompok-kelompok umat Islam sangat sensitif terhadap isu Kristenisasi. Kristologi tidak dapat dipisahkan dari suasana batin demikian. 

Karena itu, kajian kristologi yang dialogis menjadi sebuah keniscayaan bagi terciptanya sikap toleran, saling percaya, dan kerjasama. Jika kristologi yang ada lahir dari sebuah pembelaan terhadap keimanan komunitas terhadap sesuatu yang dipandang sebagai ancaman, kristologi dialogis dapat dilihat sebagai upaya menciptakan saling menghormati antara sesama pemeluk agama. Sikap tertutup, kurangnya komunikasi, dan persoalan-persoalan politik dapat membawa kepada suasana kebencian.

Islam dan Kristen adalah agama yang memiliki nasab yang dekat. Keduanya lahir dari tradisi agama Ibrahim yang mengajarkan proses ke arah kebenaran (hanif) dan mengakui keesaan Tuhan. Kedekatan tersebut seenarnya telah dieksplorasi oleh beberapa pihak. Sekolah Tinggi Teologia Apostolos Jakarta barangkali dapat menjadi contoh bagi tumbuhnya krsitologi damai. Mereka menyerukan untuk kembali kepada “kemah Ibrahim’.

Istilah tersebut dapat ditemukan justifikasi teologisnya dalam Al-Qur’an, yaitu dalam surat Ali Imran ayat 64. Surat memerintahkan agar umat Islam mengajak ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) untuk menuju kepada kalimah sawa, sebuah common platform. Common platform tersebut adalah beriman kepada Allah dan tidak menjadikan para pemimpin agama sebagai Tuhan-tuhan selain Allah.

Menurut al-Suyuthi, surat Ali Imran ayat 64 turun terkait dengan claim truth yang ditunjukkan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Orang-orang Yahudi merasa bahwa Ibrahim adalah orang Yahudi dan orang Nasrani pun mengklaim hal yang sama terhadap Ibrahim.[37] Sementara itu, Al-Qur’an mengajarkan agar tidak terjebak dalam klaim afiliasi terhadap orang, melainkan afiliasi kepada kebenarannya. Umat Islam dianjurkan untuk mempelopori upaya kembali kepada common platform yang berupa gagasan atau ide, bukan kepada afiliasi formal atau afiliasi sosial semata. 

Larangan untuk mengambil para rahib dan pendeta sebagai “Tuhan” dimaksudkan agar dalam melakukan dialog untuk menuju kalimah sawa’ dilakukan dengan cara kritis dan obyektif. Dialog dapat dilakukan dengan mengurangi perasaan komunalisme dan keterikatan terhadap dogma, melainkan dengan berusaha untuk mendekati kebenaran secara bersama.

Kata hanif dapat diartikan dengan “condong kepada kebenaran”. Itu berarti selalu ada peluang untuk adanya kesalahan. Condong kepada kebenaran adalah sikap paling rasional karena kebenaran sejati hanya milik Allah. Kemampuan manusia hanyalah mendekati dan terus mendekati kebenaran tersebut. Kristologi dialogis dapat dilakukan untuk mendialogkan pandangan-pandangan teologis, bukan untuk menjadikan orang lain muallaf atau orang Kristen, melainkan untuk menunjukkan pandangan masing-masing dan mencari titik temunya.   

Claim truth yang sering muncul di antara agama-agama dapat dipahami karena setiap agama mengajarkan kebenaran dan menyeru umat manusia untuk berkumpul dalam naungan kebenara dan keselamatan sejati. Persoalannya adalah kebenaran ketika dipahami manusia mengandung resiko untuk terdistorsi karena berbagai faktor.  Agama memiliki dua sisi, yaitu sisi spiritualitas dan sisi identitas sosial dan komunal. Sisi spiritualitas merupakan sisi substansi, sementara sisi identitas sosial hanyalah suplemen. Akan tetapi, sisi identitas sosial seringkali mendominasi sisi spiritualitas sehingga kebenaran agama tidak dapat didialogkan lagi. 

Untuk itu, kristologi dialogis patut dikembangkan sebagai jalan keluar sikap saling curiga dan kebencian antar pemeluk agama. Landasan normatif kristologi dialogis dapat ditemukan dalam Al-Qur’an sendiri, yaitu surat Ali Imran ayat 64 di atas. Tema-tema teologis dapat menjadi bahan dialog sepanjang digunakan untuk menemukan common platform tersebut.

Kerja Kristologi maupun Islamologi yang ramah perbedaan dalam tataran internasional telah dilakukan oleh Karena Amstrong. Karyanya The History of God dapat menjadi contoh bagaimana kajian terhadap agama lain dilakukan secara empatis. The History of God memberi inspirasi bagi kerja bridging (penjembatanan) antara kelompok yang terpolarisasi secara sosial. Karya semacam itu menyediakan materi bagi peninjauan ulang  diskursus yang melembagakan konflik.

Di kalangan Nasrani pun telah muncul karya yang cukup baik dalam memberikan landasan pemahaman hubungan Islam-Kristen di Indonesia secara lebih jernih.[38] Ia menulis buku Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia yang mencoba menarasikan kembali ketegangan-ketegangan antara umat Islam dan Kristen dalam sejarah Indonesia. Ia menggunakan sudut pandang kedua belah pihak untuk menjelaskan berbagai ketegangan antara umat Islam dan Kristen. Meskipun masih banyak kelemahannya, buku tersebut patut menjadi contoh perumusan Kristologi yang ramah dialog.

Secara umum, Watt berpandangan mengenai perlunya dialog, baik formal maupun informal. Ia mengajak kepada pemahaman mengenai agama lain yang bersifat simpatik. Ia menekankan bahwa tujuan dari dialog agama adalah untuk saling memberi dan menerima dan mengakui keberadaan pihak lain sebagai mitra sejajar. Dilog tersebut agama lain tidak dimaksudkan untuk melakukan transformasi, atau bahkan konversi, melainkan untuk memahami keyakinan agama lain sehingga akan memberi dampak kepada pemahaman teradap keyakinan sendiri secara lebih baik.[39] Dengan cara tersebut, sikap saling memahami dan menghargai keyakinan pemeluk agama lain akan dapat dicapai. Hal itu membuka jalan bagi dialog antarumat beragama sehingga dapat menciptakan saling pemahaman dan kerjasama di tengah perbedaan yang ada. 

PENUTUP   

Hubungan Islam dan Kristen di Indonesia masih merupakan pekerjaan rumah bagi para pemeluknya untuk menciptakan hubungan yang harmonis. Hubungan tersebut akan berpengaruh kepada kesatuan bangsa Indonesia karena umat Islam dan Kristen di Indonesia menempati posisi pertama dan kedua dari segi kuantitas. Hambatan yang muncul terletak kepada sikap satu pihak terhadap pihak lain. Selama ini, umat Islam mengalami kekhawatiran bahwa mereka menjadi obyek Kristenisasi. Sementara itu, umat Kristen merasa bahwa ruang gerak mereka sangat dibatasi oleh umat Islam yang mayoritas.

Kajian Kristologi versi Islam memerankan peran penting dalam pembentukan cara pandang satu pihak kepada pihak lain, utamanya di kalangan umat Islam. Kristologi menjadi sumber pembentukan diskursus yang menyediakan skema pengetahuan mengenai pihak lain, meskipun pengetahuan tersebut bersifat apologetis.

Kristologi bisa bermata dua, yaitu bisa menjadi sarana untuk memperkuat hubungan dan saling pemahaman antara umat Islam dan Kristen, atau justru menjadi sarana menciptakan kecurigaan dan kebencian.  Sementara ini, Kristologi versi Islam lebih masih memerankan fungsi pertama. Karena itu, ruang bagi perumusan Kristologi yang lebih ramah terhadap pihak lain masih terbuka lebar.

 


DAFTAR RUJUKAN

Abujamin Roham, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an dalam Segi Isi dan Riwayat Penulisannya.  Jakarta: Bulan Bintang. 1990

Ahwan Fanani, Perkembangan Kristologi di Indonesia Pada Era Reformasi: Studi Kasus terhadap Kelompok Jamaat  Di Kota Semarang.  Laporan Penelitian yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian IAIN Walisongo dengan Bantuan Biaya DIPA IAIN Walisongo Tahun  2007

 al-Ghazali, Al-Radd al-Jami>l. Kairo: al-Hay’ah al-‘Ammah li Shu’un al-Mat}abi’ al-Amirah. 1973.

Alwi Shihab, Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia. Bandung: Mizan. 1998. h. 165-166.

Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis. Jakarta: Perspektif. 2005.

Arsjad Lubis, Keesaan Tuhan Menurut Ajaran Islam dan Kristen. Jakarta: Media Dakwah. Cet. VIII. 1990.

Bahaudin Mudhary yang terkait dengan Kristologi adalah Dialog Masalah Ketuhanan Yesus. Ttp: Pustaka Dai. 2001.

Bey Arifin, Dialog Islam dan Kristen. Surabaya: Pustaka Progressif. Cet. IV. 1983.

C. Groenen Ofm, Sejarah Dogma Kristologi.  Perkembangan Pemikiran Yesus Kristus pada Umat Kristen. Yogyakarta: Kanisius. 1988.

CD Debat Muallaf (Mantan Kristen) Vs Murtadin (Mantan Islam)

Fatimah Hussein dalam Muslim-Christian Relations in the New Order Indonesia: the Exclusivist dan Inclusivist Muslims’ Perspective. Bandung: Mizan. 2005.

Frithjof Schuon, Islam and the Perennial Philosophy. Terj. Rahmani Astuti dengan judul “Islam dan Filsafat Perennial”. Bandung: Mizan. 1994.

Hajaruddin, Bijbel dalam Perspektif Umum Al-Qur’an. Bogor: Yayasan Khidmat Bangsa. 1996

Hasbullah Bakry, Pandangan Islam tentang Kristen di Indonesia.  Jakarta: CV Akademika Pressindo. Cet. II tahun 2000

Ibn H}azm, Al-Fishal fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 1996. Juz. I

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Hida>yah al-Hayara fi al-Radd ‘ala al-Yahu>d wa al-Nasara. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 1994.

Ibnu Taimiyyah, Al-Tafsir al-Kabir. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. Tth. Juz. IV. 

Irene Handono, Mempertanyakan Kebangkitan Isa Al Masih. Ttp: Bima Rodheta. Cet. VIII 2004. 

____________, Perayaan Natal 25 Desember: Antara Dogma an Toleransi. Ttp: Bima Rodheta. Cet. VI 2004

Ismatu Ropi, Fragile Relation: Muslim and Christians in Modern Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 2000.

Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuthi, Tafsir al-Jalalayn. Hamisy “Al-Qur’an al-Karim”, Damaskus: Dar al-Basyar. 1993.

Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2006

Karya Hamka yang terkait dengan Kristologi adalah Umat Islam Menghadapi Tantangan Kristenisasi dan Sekulerisasi. Jakarta: Pustaka Panjimas. 2003.

Komaruddin Hidayat dan Hendro Prasetyo (eds.), Problem dan Prospek IAIN: Antologi Pendidikan Tinggi Islam. Jakarta: Ditperta Dirjen Bagais. 2000.

M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia. Jakarta: Media Dakwah. 1969

Th. Sumartana, Mission at the Crossroad, Indigineus Churches, European Missionaries, Islamic Assiciation and Socio-religious Change in Java 1812-1936. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. 1993

Waryono Abdul Ghafur, Kristologi Islam: Telaah Kritis Kitab Radd al-Jamil Karya al-Ghazali Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet. I 2006. 

William Montgomery Watt, Muslim-Christian Encounters: a Perception and Misperception. London: Routledge. 1991.

www.forum.arimatea.com.

 

 


* Penulis adalah Dosen IAIN Walisongo Semarang.

[1]Lihat pembahasan selengkapnya dalam C. Goenen Ofm. Sejarah Dogma Kristologi: Perkembangan Pemikiran tentang Yesus Kristus pada Umat Kristen. (Yogyakarta: Kanisius, 1988). 

[2]Ibn Taymiyyah, Al-Tafsi>r al-Kabi>r (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.t.), IV. 

[3]Ibnu Hazm menekankan kritiknya kepada otentisitas Injil dan kesalahan dalam memahami Injil yang berakibat kepada problem dalam akidah Nasrani. Lihat Ibn H}azm. Al-Fis}al fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Niha>l. (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1996), I:  257-361.  

[4]Lihat dalam al-Ghaza>li, Al-Radd al-Jami>l, (Kairo: al-Hay’ah al-Ammah li Shu’un al-Mat}abi’ al-Amirah. 1973). Buku tersebut di-tahqi>q dan diulas oleh Abd al-Azi>z Abd al-Haqq Ilmi dan dikaji mengenai otentisitasnya karena banyaknya tuduhan kitab tersebut bukan karya al-Ghaza>li.   

[5]Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Hida>yah al-Hayara fi al-Radd ‘ala al-Yahu>d wa al-Nas}a>ra> (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 1994). Ibnu Qayyim menekankan kepada kritik historis dalam kristologi.  

[6]William Montgomery Watt, Muslim-Christian Encounters: a Perception and Misperception  (London: Routledge. 1991), 59, 70.  

[7]Di antara buku karya Arsjad Lubis tentang Krsitologi adalah, Keesaan Tuhan Menurut Ajaran Islam dan Kristen  (Jakarta: Media Dakwah,1990).  

[8]Karya Bey Arifin yang terkait dengan Kristologi adalah Dialog Islam dan Kristen  (Surabaya: Pustaka Progressif 1983).

[9]Karya Hamka yang terkait dengan Kristologi adalah Umat Islam Menghadapi Tantangan Kristenisasi dan Sekulerisasi (Jakarta: Pustaka Panjimas. 2003).

[10]Karya Bahaudin Mudhary yang terkait dengan Kristologi adalah Dialog Masalah Ketuhanan Yesus  (Ttp: Pustaka Dai, 2001).

[11]Irene menulis beberapa buku dan pengantar buku kristologi. Di antara karyanya adalah dua buku kecil: 1). Perayaan Natal 25 Desember: Antara Dogma an Toleransi (Ttp: Bima Rodheta, 2004), 2). Mempertanyakan Kebangkitan Isa Al Masih (Ttp: Bima Rodheta, 2004). 

[12]Arimatea adalah nama singkatan dari Advokasi, Rehabilitasi, Imunisasi Aqidah yang Terpadu, Efektif dan Aktual. Buka situs Forum Arimatea. www.forum.arimatea.com.  

[13]Perdebatan semacam itu kemudian dicetak dalam CD dan disebarluaskan. Salah satu CD tersebut adakah Debat Muallaf (Mantan Kristen) Vs Murtadin (Mantan Islam), yaitu hasil perdebatan antara 3 orang muallaf dengan pendeta mantan  muslim di Asrama Haji Pondok Gede. 11 September 2004. 

[14]Lihat Waryono Abdul Ghafur, Kristologi Islam: Telaah Kritis Kita>b al-Radd al-Jami>l Karya al-Ghaza>li (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006). 

[15]Ibid., vii-viii.

[16]Koherensi adalah salah satu bentuk kebenaran yang dicapai melalui uji terhadap sistematikan berpikir dan argumentasi. Benar salah dalam perspektif koherensi diperoleh melalui konsistensi logis sebuah gagasan terhadap konsekuensi-konsekuensi yang muncul dari sebuah proposisi atau silogisme.

[17]Lihat Waryono Abdul Ghafur. Kristologi,173-174 .

[18]Fatimah Hussein dalam Muslim-Christian Relations in the New Order Indonesia: the Exclusivist dan Inclusivist Muslims’ Perspective (Bandung: Mizan, 2005), 68-69. 

[19]Ibid.

[20]Ibid., 71.

[21]Tulisan Ten Berg tersebut tidak hanya mengundang respon dari Muhammad Natsir, tetapi juga dari berbagai elemen umat Islam. Tulisan Ten Berg dipandang menyinggung kepercayaan orang-orang Islam dan menimbulkan kemarahan terhadap Kristen. Muhammadiyah dan Persis secara khusus melakukan serangan balik dan counter terhadap tulisan Ten Berge. Tidak hanya lewat tulisan, respon masyarakat muslim secara umum terungkap lewat demonstrasi massa di sejumlah kota. Lihat dalam Alwi Shihab. Membendung Arus: Respon Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia  (Bandung: Mizan, 1998),165-166.

[22]Ismatu Ropi, Fragile Relation: Muslim and Christians in Modern Indonesia (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2000), 40. 

[23]M. Natsir. Islam dan Kristen di Indonesia (Jakarta: Media Dakwah, 1969), 18-20.  Menarik untuk dicatat, buku Islam dan Kristen di Indonesia dikompilasikan dari tulisan-tulisan Natsir sejak tahun 1930-1969 oleh Endang Saifuddin Anshari pada tahun 1969, yakni ketika periode awal Orde Baru. Buku tersebut dicetak dua tahun setelah Musyawarah antara Agama yang tidak berhasil menyepakati klausul anjuran untuk tidak menjadikan orang yang sudah memeluk agama (rsemi) sebagai sasaran dakwah atau missi. Endang Saifuddin Anshari dalam  Kata Pengantar buku tersebut menyebutkan bahwa alasan ia mengkompilasikan tulisan-tulisan Natsir salah satunya adalah karena masalah keragaman hidup antar golongan beragama sedang hangat dibicarakan.

[24]Ibid.,. 22-23.

[25]Buku tersebut terbit tahun 1957 oleh penerbit BPK Gunung Mulia Jakarta. 

[26]Ismatu Ropi. Fragile Relation, 54-61.

[27]Lihat Hasbullah Bakry. Pandangan Islam tentang Kristen di Indonesia (Jakarta: CV Akademika Pressindo, 2000)

[28]Ibid., 14-15.

[29]Ibid., 41.

[30]Ahwan Fanani, Perkembangan Kristologi di Indonesia Pada Era Reformasi: Studi Kasus terhadap Kelompok Jamaat  Di Kota Semarang  (Laporan Penelitian yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian IAIN Walisongo dengan Bantuan Biaya DIPA IAIN Walisongo Tahun  2007). Fanani membuat pemetaan kajian Kristologi versi Islam menjadi tiga era: 1) era pra-Orde Baru, 2) Era Orde Baru; dan 3) Era Reformasi. 

[31]Syam adalah salah seorang keturunan Nuh, yang dipercaya menurunkan generasi para Nabi, yaitu Isha>q bagi umat Yahudi dan Nasrani, dan Isma>’il bagi umat Islam. 

[32]Ismail Raj’I al-Faruqi menyebut ketiganya three Abrahamic Religion

[33]Frithjof Schuon ketika menbandingkan antara Islam dengan Nasrani, ia berkesimpulan mengenai orientasi besar Islam terhadap kebenaran, sementara Nasrani kepada kehadiran. Lihat Frithjof Schuon, Islam dan Filsafat Perennial, Terj. Rahmani Astuti (Bandung: Mizan. 1994).

 

[34]Th. Sumartana, Mission at the Crossroad, Indigineus Churches, European Missionaries, Islamic Assiciation and Socio-religious Change in Java 1812-1936 (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1993), 310.  

[35]Lihat Al-Quran surat Ali Imran ayat 19.

[36]Lihat dalam Hajaruddin, Bijbel dalam Perspektif Umum al-Quran (Bogor: Yayasan Khidmat Bangsa, 1996); Abujamin Roham, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an dalam Segi Isi dan Riwayat Penulisannya (Jakarta: Bulan Bintang, 1990); dan Bahauddin Mudhary, Dialog….

 

[37]Jala>l al-di>n al-Mah>alli dan Jala>l al-di>n al-Suyu>t}i,Tafsi>r al-Jalalayn, Hamisy “Alquran al-Karim” (Damaskus: Dar al-Basyar, 1993), 66.

[38]Lihat Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2006).

[39]Lihat William Montgomery Watt, Muslim-Christian Encounters, 144.

One thought on “Kristologi Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s